Ayat
ini merupakan Pengecualian (Istiṡnā') hukum
dari ayat sebelumnya (ayat 97). Jika ayat 97 memberikan ancaman
neraka bagi mereka yang tidak hijrah, ayat 98 memberikan "uzur
syar'i" bagi mereka yang benar-benar lemah secara fisik,
materi, atau pengetahuan geografis.
🧐
Analisis
I'rāb (Gramatikal)
I.
Bagian Pertama: Pengecualian Kelompok Lemah
إِلَّا
الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ
وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
إِلَّا
(Illā)
|
Ḥarf
Istiṡnā'
|
Huruf
pengecualian. Mengeluarkan hukum kelompok ini dari ancaman
ayat sebelumnya.
|
الْمُسْتَضْعَفِينَ
(Al-Mustad'afīna)
|
Mustaṡnā (Yang
dikecualikan)
|
Manṣūb dengan
tanda Yā' karena Jam' Mużakkar
Sālim.
Statusnya
dikecualikan dari ḍamīr "Hum"
pada kata Ma'wāhum (Tempat tinggal mereka
[neraka]) di ayat 97.
|
مِنَ
الرِّجَالِ (Min
ar-Rijāli)
|
Jārr
wa Majrūr
|
Huruf Min di
sini bermakna Bayāniyyah (Penjelas).
Terkait dengan keadaan Al-Mustad'afīn.
|
وَالنِّسَاءِ
(Wan-Nisā'i)
|
'Aṭaf
|
Disambungkan
ke Ar-Rijāli. Majrūr.
|
وَالْوِلْدَانِ
(Wal-Wildāni)
|
'Aṭaf
|
Disambungkan
ke Ar-Rijāli. Majrūr. "Dan
anak-anak."
|
II.
Bagian Kedua: Definisi Kelemahan (Ketidakmampuan Mutlak)
لَا
يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا
يَهْتَدُونَ سَبِيلًا
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
لَا
(Lā)
|
Nāfiyah
|
Huruf
penyangkal (Tidak).
|
يَسْتَطِيعُونَ
(Yastaṭī'ūna)
|
Fi'l
Muḍāri'
|
Marfū' dengan
tetapnya Nūn (Ṡubūtun Nūn). Wāw adalah Fā'il.
PENTING: Kalimat
(Jumlah Fi'liyyah) ini berposisi
sebagai Ṣifah/Na'at (Sifat)
bagi Al-Mustad'afīn.
Artinya:
"(Yaitu golongan lemah) yang tidak mampu..."
|
حِيلَةً
(Ḥīlatan)
|
Maf'ūl
bih (Objek)
|
Manṣūb.
Artinya: "tipu daya/upaya/biaya/strategi."
|
وَلَا
(Wa
Lā)
|
'Aṭaf + Nāfiyah
|
Dan
tidak.
|
يَهْتَدُونَ
(Yahtadūna)
|
Fi'l
Muḍāri'
|
Marfū' (tetapnya
Nūn). Disambungkan ke Yastaṭī'ūna. Artinya:
"mengetahui arah/mendapat petunjuk."
|
سَبِيلًا
(Sabīlan)
|
Maf'ūl
bih atau Manṣūb 'ala Naz'il Khāfiḍ
|
Manṣūb.
1.
Sebagai Objek langsung (jika Yahtadūna dimaknai
transitif: "mengetahui jalan").
2.
Atau asalnya Ilā Sabīlin (ke jalan), lalu
huruf jarnya dibuang.
|
🔑
Poin
Utama I'rāb Ayat
Status
Kalimat "Lā Yastaṭī'ūna" (Sifat atau
Hāl?): Kalimat Lā yastaṭī'ūna
ḥīlatan (Mereka tidak mampu berupaya) menjelaskan
siapa sebenarnya yang dimaksud "Mustad'afīn" yang
dimaafkan Allah.
Secara
kaidah umum: "Kalimat setelah Isim Ma'rifah (ada Alif Lam)
adalah Hāl." (Al-Mustad'afīn pakai Alif
Lam).
Namun,
para ahli Nahwu sering meng-i'rab kalimat ini sebagai Ṣifah
(Sifat) karena Al pada Al-Mustad'afīn bermakna Jinsiyyah (jenis
umum), bukan orang tertentu.
Makna
Fiqih: Tidak semua orang yang mengaku lemah itu
dimaafkan. Sifat yang menjadi syarat pemaafan
adalah ketidakmampuan total (tidak punya
biaya, tidak punya fisik, atau dikurung). Jika masih
punya Ḥīlah (celah/upaya) tapi malas, maka
tidak termasuk ayat ini.
Kenapa
"Wildan" (Anak-anak) Disebut? Secara hukum
syariat, anak-anak (Wildan) belum Mukallaf (belum
wajib syariat, apalagi hijrah). Lalu kenapa disebut dan diancam
jika tidak hijrah?
Makna
"Sabīlan" (سَبِيلًا): Kata
ini menjadi objek bagi Yahtadūna.
Ini menunjukkan ketidaktahuan rute geografis.
Min
al-Bayaniyyah: Huruf Min pada Min
ar-Rijāli berfungsi menjelaskan (Bayaniyyah) siapa
saja anggota kelompok Mustad'afīn itu. Ini
merinci cakupan pengecualian agar jelas hukumnya bagi laki-laki,
perempuan, dan anak-anak.