Ayat
ini merupakan Badal (Penjelas/Pengganti) dari
frasa "Ajran 'Aẓīman" (Pahala yang
agung) pada akhir ayat 95. Ayat ini merinci apa saja isi dari
pahala agung tersebut, yaitu: kenaikan derajat yang banyak,
ampunan, dan rahmat.
🧐
Analisis
I'rāb (Gramatikal)
I.
Bagian Pertama: Rincian Pahala (Badal)
دَرَجَاتٍ
مِّنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
دَرَجَاتٍ
(Darajātin)
|
Badal (Pengganti)
|
PENTING: Kata
ini berposisi sebagai Badal dari
kata Ajran (di ayat 95).
1.
Karena Ajran itu Manṣūb,
maka Darajātin juga Manṣūb.
2.
Tanda Naṣab-nya adalah Kasrah (bukan fatḥah)
karena ia adalah Jam' Mu'annaṡ Sālim (Jamak
perempuan beraturan).
Artinya:
"(Yaitu) beberapa derajat/tingkatan."
|
مِّنْهُ
(Minhu)
|
Jārr
wa Majrūr
|
Terkait
(Muta'alliq) dengan kata Darajātin atau
berposisi sebagai Ṣifah (Sifat) baginya.
Artinya:
"(yang datang) dari sisi-Nya."
|
وَمَغْفِرَةً
(Wa
Maghfiratan)
|
'Aṭaf (Kata
Sambung)
|
Disambungkan
ke Darajātin.
Perhatikan: Tanda
Naṣab-nya kembali ke asal yaitu Fatḥah, karena
ini adalah Isim Mufrad (Tunggal), berbeda
dengan Darajātin.
|
وَرَحْمَةً
(Wa
Raḥmatan)
|
'Aṭaf
|
Disambungkan
ke Maghfiratan. Manṣūb dengan
fatḥah.
|
II.
Bagian Kedua: Penutup (Sifat Allah)
وَكَانَ
اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
وَ
(Wa)
|
Wāw
Isti'nāfiyyah
|
Permulaan
kalimat penutup.
|
كَانَ
(Kāna)
|
Fi'l
Māḍī Nāqiṣ
|
Menunjukkan
sifat Allah yang azali dan abadi.
|
اللَّهُ
(Allāhu)
|
Ism
Kāna (Subjek Kāna)
|
Marfū' dengan
ḍammah.
|
غَفُورًا
(Ghafūran)
|
Khabar
Kāna 1
|
Manṣūb.
"Maha Pengampun."
|
رَّحِيمًا
(Raḥīman)
|
Khabar
Kāna 2
|
Manṣūb.
"Maha Penyayang."
|
🔑
Poin
Utama I'rāb Ayat
Hubungan
Ayat 95 & 96 (Fungsi Badal): Secara Nahwu, ayat 96
ini tidak berdiri sendiri secara makna, melainkan kelanjutan
langsung dari akhir ayat 95.
Ayat
95: ...Ajran 'Aẓīman (Pahala yang agung).
Ayat
96: Darajātin... ((Yaitu) Derajat-derajat...).
Dalam
ilmu I'rab, ini disebut Badal al-Kull min
al-Kull (Pengganti keseluruhan) atau Badal
al-Isytimāl (Pengganti cakupan). Pahala agung
itu adalah derajat-derajat tersebut.
Perbedaan
Tanda I'rab (Kasrah vs Fatḥah): Ini adalah poin
pelajaran Nahwu yang sangat bagus. Dalam satu rangkaian
kalimat 'Aṭaf (sambung menyambung), tanda baca
akhirnya berbeda-beda meskipun kedudukannya sama (Naṣb):
Perubahan
dari Mufrad ke Jamak (Darajah vs Darajāt):
Di Ayat
95, Allah menggunakan kata Darajatan (Tunggal/Satu
derajat) saat membandingkan orang yang duduk vs berjihad. Ini
perbandingan status umum.
Di Ayat
96, Allah menggunakan Darajāt (Jamak/Banyak
derajat) saat merinci balasan di akhirat.
Makna
Tafsir: Surga itu memiliki bertingkat-tingkat derajat.
Jarak antar derajat (seperti dalam hadis) bisa sejauh langit dan
bumi. Ini motivasi dahsyat bagi Mujahidin.
Khabar
Berbilang (Ta'addud al-Khabar): Dalam kalimat Kāna
Allāhu Ghafūran Raḥīman, terdapat dua Khabar
(Ghafūran dan Raḥīman) untuk satu Isim
(Allāhu).
Ini
menegaskan bahwa Allah memiliki banyak sifat sempurna sekaligus
dalam satu waktu.
Kenapa
sifat Ghafūr (Pengampun) muncul di konteks
Jihad? Karena dalam perang sangat mungkin terjadi kesalahan,
kekhilafan, atau tindakan berlebihan yang butuh ampunan Allah
(seperti kasus salah bunuh di ayat 92-94).
Langkah
Selanjutnya: Apakah Anda ingin melanjutkan ke Ayat
97 yang membahas tentang orang-orang yang menzalimi diri
sendiri (tidak mau hijrah) dan nasib mereka di alam kubur?