Ayat
ini merupakan perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menegaskan
kebenaran Allah, dan menyeru untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim AS
yang lurus (hanīf) dan bukan musyrik.
I'rab
Surah Ali 'Imran Ayat 95
|
Kata
|
Jenis
Kata
|
I'rab (Kedudukan)
|
Penjelasan
|
|
قُلْ
|
Fi'il
Amr
|
Mabni
'Ala As-Sukun
|
Fi'il
Amr. Fa'il adalah dhamir
mustatir takdirnya Anta (Muhammad
SAW).
|
|
صَدَقَ
|
Fi'il
Mādhī
|
Mabni
'Ala Al-Fath
|
Fi'il
Mādhī (Telah benar/jujur).
|
|
اللَّهُ
|
Isim
Jalalah
|
Marfu' (Kedudukan Rafa')
|
Fā'il bagi صَدَقَ.
|
|
صَدَقَ
اللَّهُ
|
Jumlat
Fi'liyyah
|
Fi
mahalli Nashab
|
Maf'ul
Qawl (Objek
perkataan) bagi قُلْ.
|
|
فَ
|
Huruf
Fasīḥah
|
Fā'
Al-Fasīḥah
|
Menghubungkan
konsekuensi logis dari pernyataan sebelumnya (Karena Allah telah
benar, maka ikutilah...).
|
|
اتَّبِعُوا
|
Fi'il
Amr + Dhamir
|
Mabni
'Ala Ḥadzf an-Nūn
|
Fi'il
Amr (Ikutilah). وا adalah Fā'il (kembali
kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab yang mau beriman).
|
|
مِلَّةَ
|
Isim
|
Manshub (Kedudukan Nashab). Mudhaf.
|
Maf'ulun
Bih bagi اتَّبِعُوا.
|
|
إِبْرَاهِيمَ
|
Isim (Alam)
|
Majrur
|
Mudhaf
Ilaih bagi مِلَّةَ.
Tanda jarr-nya fathah karena ghairu
munṣarif.
|
|
حَنِيفًا
|
Isim (Ṣifat)
|
Manshub (Kedudukan Nashab)
|
Ḥāl (Keterangan
Keadaan) dari إِبْرَاهِيمَ (Ibrahim
dalam keadaan lurus).
|
|
وَ
|
Huruf
Isti'nāf/Ḥāl
|
Wāw
Al-Ḥāliyyah
|
Menghubungkan
kalimat ini sebagai keterangan tambahan.
|
|
مَا
|
Huruf
Nafyi
|
Haraf
Nafyi
|
Menafikan
(beramal seperti Laisa).
|
|
كَانَ
|
Fi'il
Mādhī Nāqis
|
Mabni
'Ala Al-Fath
|
Fi'il
Nāqis. Isim Kāna adalah dhamir
mustatir takdirnya Huwa (kembali
kepada Ibrahim).
|
|
مِنَ
الْمُشْرِكِينَ
|
Haraf + Isim
Fā'il
|
مِنْ adalah Haraf
Jarr. الْمُشْرِكِينَ adalah Isim
Majrur.
|
Syibhul
jumlah fi mahalli Nashab sebagai Khabar
Kāna. Tanda jarr-nya yā'.
|
📝
Catatan
Penting Mengenai I'rab:
Pernyataan
Tauhid: Kalimat قُلْ
صَدَقَ اللَّهُ adalah
inti dari respons terhadap perdebatan Ahli Kitab: semua kebenaran
berasal dari Allah.
Fā'
Al-Fasīḥah (فَ): Penggunaan فَ menunjukkan
bahwa perintah untuk mengikuti Millah
Ibrahim adalah
konsekuensi yang tak terhindarkan setelah ketetapan Ṣadaqa
Allāh.
Ḥāl
(حَنِيفًا): حَنِيفًا (orang
yang lurus/bertendensi pada tauhid) adalah Ḥāl yang
menjelaskan keadaan Nabi Ibrahim AS ketika beliau diikuti. Ini
menyanggah klaim Yahudi/Nasrani bahwa Ibrahim termasuk kelompok
mereka.
Penegasan
Negatif: Bagian
terakhir (وَمَا
كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ)
adalah penegasan negatif ganda (menggunakan mā
nāfiyah dan kāna),
yang menekankan status Ibrahim yang tidak pernah menyekutukan
Allah.