Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 86

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.

Irab Surat AnNisa ayat 86



Ayat ini adalah landasan etika sosial dalam Islam mengenai Adab Salam. Allah mewajibkan umat Islam untuk membalas penghormatan dengan yang lebih baik, atau minimal setara, dan mengingatkan bahwa sekecil apapun interaksi sosial itu diperhitungkan oleh Allah.

🧐 Analisis I'rāb (Gramatikal)

I. Bagian Pertama: Kondisi (Saat Diberi Salam)

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَ (Wa)

Wāw Isti'nāfiyyah

Permulaan kalimat/topik baru tentang adab.

إِذَا (Iżā)

Ẓarf Zamān (Ket. Waktu)

Mengandung makna syarat (Syarṭiyyah). Muḍāf.

حُيِّيتُم (Ḥuyyītum)

Fi'l Māḍī Mabni lil Majhūl

Fi'l (Pasif). Asalnya Ḥayya.



1. Mabni sukun karena bertemu ḍamīr rafa'.



2. Tum adalah Nā'ib Fā'il (Pengganti Subjek).



3. Kalimat ini berada pada posisi Jarr sebagai Muḍāf Ilaih dari Iżā.

بِتَحِيَّةٍ (Bi-taḥiyyatin)

Jārr wa Majrūr

Terkait (Muta'alliq) dengan Ḥuyyītum.

II. Bagian Kedua: Perintah Membalas (Jawab Syarat)

فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

فَ (Fa)

Fā' Rābiṭah li Jawāb Syarṭ

Pengikat jawaban syarat. Wajib ada karena jawabannya berupa kalimat perintah (Ṭalabiyyah).

حَيُّوا (Ḥayyū)

Fi'l Amr (Kata Perintah)

Mabni dengan membuang huruf Nūn (Ḥaẓfun Nūn). Wāw adalah Fā'il. Kalimat ini adalah Jawāb Syarṭ.

بِأَحْسَنَ (Bi-aḥsana)

Jārr wa Majrūr

Penting:



1. Bi: Huruf Jar.



2. AḥsanaMajrūr dengan tanda Fatḥah (bukan kasrah) karena ia adalah Ism Ghairu Munṣarif (Mamnū' min aṣ-Ṣarf) dengan alasan sifat wazan Af'al (Komparatif).

مِنْهَا (Minhā)

Jārr wa Majrūr

Terkait dengan Aḥsana.

أَوْ (Aw)

Ḥarf 'Aṭf

Bermakna Takhyīr (pilihan).

رُدُّوهَا (Ruddūhā)

Fi'l Amr + Fā'il + Maf'ūl

Ruddū: Fi'l Amr, Wāw Fā'il. : Maf'ūl bih (objek - salam itu). Disambungkan (Ma'ṭūf) ke perintah Ḥayyū.

III. Bagian Ketiga: Penutup (Alasan Teologis)

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

إِنَّ (Inna)

Ḥarf Tawkīd wa Naṣb

Huruf penegas.

اللَّهَ (Allāha)

Lafẓul Jalālah

Ism InnaManṣūb dengan fatḥah.

كَانَ (Kāna)

Fi'l Māḍī Nāqiṣ

Menunjukkan kesinambungan sifat Allah. Isim Kāna adalah ḍamīr mustatir (Huwa -> Allah).

عَلَىٰ كُلِّ ('Ala Kulli)

Jārr wa Majrūr

Terkait dengan Ḥasīban.

شَيْءٍ (Syai'in)

Muḍāf Ilaih

Majrūr dengan kasrah.

حَسِيبًا (Ḥasīban)

Khabar Kāna

Manṣūb. Artinya: "Maha Memperhitungkan / Maha Menghisab."



Catatan: Kalimat Kāna... dan seterusnya adalah Khabar Inna.


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Penggunaan Pasif "Ḥuyyītum" (حُيِّيتُم): Allah menggunakan bentuk pasif (kalian dihormati/diberi salam), tanpa menyebutkan pelakunya (Fā'il).

    • Makna: Kewajiban menjawab salam tidak bergantung pada siapa yang memberi salam (apakah dia orang kaya, miskin, atasan, atau bawahan). Selama salam itu diberikan (majhul pelakunya tidak membatasi hukum), kewajiban menjawab tetap berlaku.

  2. Hukum "Ism Ghairu Munṣarif" pada "Aḥsana" (أَحْسَنَ): Kata أَحْسَنَ adalah contoh klasik dalam pelajaran Nahwu untuk Ism Ghairu Munṣarif (kata yang tidak menerima tanwin dan kasrah).

    • Ia mengikuti wazan Af'alu (bentuk komparatif/superlatif).

    • Karena didahului huruf jar Bi, ia seharusnya majrur. Namun, karena tidak ada Alif Lam (ال) dan tidak menjadi Mudhaf, tanda jarr-nya diganti menjadi Fatḥah.

    • Inilah sebabnya kita membaca Bi-aḥsana, bukan Bi-aḥsani.

  3. Makna "Ruddūhā" (رُدُّوهَا): Secara harfiah artinya "kembalikanlah salam itu". Dalam konteks fiqih, ini bermakna membalas dengan lafaz yang sama persis.

    • Jika orang bilang "Assalamu'alaikum", minimal kita "mengembalikan" dengan "Wa'alaikumussalam".

    • Namun opsi pertama (Bi-aḥsana) lebih dianjurkan: "Wa'alaikumussalam Warahmatullah".

  4. Kata "Ḥasīban" (حَسِيبًا): Berwazan Fa'īl yang bermakna Mubālaghah (Sangat/Maha). Allah menutup ayat etika sosial ini dengan sifat-Nya sebagai "Akuntan Agung". Ini mengingatkan bahwa menjawab salam bukan sekadar basa-basi sosial, tapi sebuah transaksi pahala yang dicatat (dihisab) secara detail oleh Allah. Jika kita mengabaikan salam orang lain, itu pun masuk dalam hitungan-Nya.