Ayat
ini adalah landasan etika sosial dalam Islam mengenai Adab
Salam.
Allah mewajibkan umat Islam untuk membalas penghormatan dengan yang
lebih baik, atau minimal setara, dan mengingatkan bahwa sekecil
apapun interaksi sosial itu diperhitungkan oleh Allah.
🧐
Analisis
I'rāb (Gramatikal)
I.
Bagian Pertama: Kondisi (Saat Diberi Salam)
وَإِذَا
حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
وَ
(Wa)
|
Wāw
Isti'nāfiyyah
|
Permulaan
kalimat/topik baru tentang adab.
|
إِذَا
(Iżā)
|
Ẓarf
Zamān (Ket. Waktu)
|
Mengandung
makna syarat (Syarṭiyyah). Muḍāf.
|
حُيِّيتُم
(Ḥuyyītum)
|
Fi'l
Māḍī Mabni lil Majhūl
|
Fi'l
(Pasif). Asalnya Ḥayya.
1.
Mabni sukun karena bertemu ḍamīr rafa'.
2. Tum adalah Nā'ib
Fā'il (Pengganti Subjek).
3.
Kalimat ini berada pada posisi Jarr sebagai Muḍāf
Ilaih dari Iżā.
|
بِتَحِيَّةٍ
(Bi-taḥiyyatin)
|
Jārr
wa Majrūr
|
Terkait
(Muta'alliq) dengan Ḥuyyītum.
|
II.
Bagian Kedua: Perintah Membalas (Jawab Syarat)
فَحَيُّوا
بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
فَ
(Fa)
|
Fā'
Rābiṭah li Jawāb Syarṭ
|
Pengikat
jawaban syarat. Wajib ada karena jawabannya berupa kalimat
perintah (Ṭalabiyyah).
|
حَيُّوا
(Ḥayyū)
|
Fi'l
Amr (Kata Perintah)
|
Mabni
dengan membuang huruf Nūn (Ḥaẓfun
Nūn). Wāw adalah Fā'il.
Kalimat ini adalah Jawāb Syarṭ.
|
بِأَحْسَنَ
(Bi-aḥsana)
|
Jārr
wa Majrūr
|
Penting:
1. Bi:
Huruf Jar.
2. Aḥsana: Majrūr dengan
tanda Fatḥah (bukan kasrah) karena ia
adalah Ism Ghairu Munṣarif (Mamnū' min
aṣ-Ṣarf) dengan alasan sifat wazan Af'al (Komparatif).
|
مِنْهَا
(Minhā)
|
Jārr
wa Majrūr
|
Terkait
dengan Aḥsana.
|
أَوْ
(Aw)
|
Ḥarf
'Aṭf
|
Bermakna Takhyīr (pilihan).
|
رُدُّوهَا
(Ruddūhā)
|
Fi'l
Amr + Fā'il + Maf'ūl
|
Ruddū:
Fi'l Amr, Wāw Fā'il. Hā: Maf'ūl bih (objek -
salam itu). Disambungkan (Ma'ṭūf) ke perintah Ḥayyū.
|
III.
Bagian Ketiga: Penutup (Alasan Teologis)
إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ
حَسِيبًا
Kata
|
I'rāb
(Kedudukan Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
إِنَّ
(Inna)
|
Ḥarf
Tawkīd wa Naṣb
|
Huruf
penegas.
|
اللَّهَ
(Allāha)
|
Lafẓul
Jalālah
|
Ism
Inna. Manṣūb dengan fatḥah.
|
كَانَ
(Kāna)
|
Fi'l
Māḍī Nāqiṣ
|
Menunjukkan
kesinambungan sifat Allah. Isim Kāna adalah ḍamīr
mustatir (Huwa -> Allah).
|
عَلَىٰ
كُلِّ ('Ala
Kulli)
|
Jārr
wa Majrūr
|
Terkait
dengan Ḥasīban.
|
شَيْءٍ
(Syai'in)
|
Muḍāf
Ilaih
|
Majrūr dengan
kasrah.
|
حَسِيبًا
(Ḥasīban)
|
Khabar
Kāna
|
Manṣūb.
Artinya: "Maha Memperhitungkan / Maha Menghisab."
Catatan: Kalimat Kāna... dan
seterusnya adalah Khabar Inna.
|
🔑
Poin
Utama I'rāb Ayat
Penggunaan
Pasif "Ḥuyyītum" (حُيِّيتُم): Allah
menggunakan bentuk pasif (kalian dihormati/diberi salam), tanpa
menyebutkan pelakunya (Fā'il).
Makna: Kewajiban
menjawab salam tidak bergantung pada siapa yang
memberi salam (apakah dia orang kaya, miskin, atasan, atau
bawahan). Selama salam itu diberikan (majhul pelakunya
tidak membatasi hukum), kewajiban menjawab tetap berlaku.
Hukum
"Ism Ghairu Munṣarif" pada "Aḥsana"
(أَحْسَنَ): Kata أَحْسَنَ adalah
contoh klasik dalam pelajaran Nahwu untuk Ism
Ghairu Munṣarif (kata
yang tidak menerima tanwin dan kasrah).
Ia
mengikuti wazan Af'alu (bentuk
komparatif/superlatif).
Karena
didahului huruf jar Bi,
ia seharusnya majrur. Namun, karena tidak ada Alif
Lam (ال)
dan tidak menjadi Mudhaf,
tanda jarr-nya diganti menjadi Fatḥah.
Inilah
sebabnya kita membaca Bi-aḥsana, bukan Bi-aḥsani.
Makna
"Ruddūhā" (رُدُّوهَا): Secara
harfiah artinya "kembalikanlah salam itu". Dalam konteks
fiqih, ini bermakna membalas dengan lafaz
yang sama persis.
Jika
orang bilang "Assalamu'alaikum", minimal kita
"mengembalikan" dengan "Wa'alaikumussalam".
Namun
opsi pertama (Bi-aḥsana) lebih dianjurkan:
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah".
Kata
"Ḥasīban" (حَسِيبًا): Berwazan Fa'īl yang
bermakna Mubālaghah (Sangat/Maha).
Allah menutup ayat etika sosial ini dengan sifat-Nya sebagai
"Akuntan Agung". Ini mengingatkan bahwa menjawab salam
bukan sekadar basa-basi sosial, tapi sebuah transaksi pahala
yang dicatat (dihisab)
secara detail oleh Allah. Jika kita mengabaikan salam orang lain,
itu pun masuk dalam hitungan-Nya.