Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata
Al-Baqarah
ayat 8
Di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ,' pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
Analisis I'rab Per Kata
(Tahlil Lafzhi)
Berikut
adalah penguraian kedudukan setiap kata dalam struktur kalimat:
1.
وَمِنَ
النَّاسِ (Wa
minan-naasi)
الْوَاوُ
(Al-Wawu):
Ini adalah Wawu
Isti’nafiyyah
(permulaan kalimat baru). Ayat ini memulai pembahasan baru tentang
kelompok manusia ketiga (orang munafik) setelah sebelumnya membahas
orang mukmin dan orang kafir.
مِنَ
(Min):
Huruf Jar, bermakna Tab'idh
(sebagian/parsial). Artinya "sebagian dari".
النَّاسِ
(An-Naasi):
Isim Majrur (kata benda yang dijarkam) oleh huruf Min.
Tanda jarnya adalah kasrah.
Kedudukan:
Gabungan Jar dan Majrur (Syibhul Jumlah) ini berposisi sebagai
Khabar Muqaddam (Predikat yang didahulukan).
2.
مَنْ
(Man)
Jenis:
Isim Maushul (Kata sambung penghubung) yang bermakna "orang/siapa".
Kedudukan:
Berposisi sebagai Mubtada’ Mu’akhar (Subjek yang
diakhirkan). Mabni sukun (tetap harakatnya) di tempat Rafa'.
Konstruksi
Kalimat Utama:"Sebagian dari manusia (Khabar) adalah
orang yang (Mubtada)..."
3.
يَقُولُ
(Yaqulu)
Jenis:
Fi’il Mudhari’ (Kata kerja bentuk sedang/akan datang). Marfu’
(rafa') dengan tanda dhommah.
Fa'il
(Pelaku): Dhomir Mustatir (kata ganti tersembunyi) takdirnya
adalah Huwa (dia), yang kembali kepada Man.
Catatan:
Mengapa menggunakan bentuk tunggal (Huwa/Yaqulu) padahal artinya
"mereka"? Karena lafaz Man secara bentuk (lafzhi)
adalah tunggal, meskipun maknanya jamak.
Kedudukan
Kalimat: Kalimat Yaqulu adalah Shilah Maushul
(anak kalimat penjelas) bagi Man, sehingga tidak memiliki
kedudukan i’rab tersendiri (la mahalla lahu minal i’rab).
4.
آمَنَّا
(Aamannaa)
آمَنَ
(Aamana):
Fi’il Madhi (Kata kerja lampau). Mabni sukun karena bersambung
dengan Na.
نَا
(Naa):
Dhomir muttashil (kata ganti bersambung) sebagai Fa’il
(Subjek/Pelaku).
Kedudukan
Kalimat: Kalimat "Aamannaa" menempati posisi
Nashob sebagai Maqulul Qaul (isi ucapan/objek dari kata
"berkata").
5.
بِاللَّهِ
(Billaahi)
الْبَاءُ
(Al-Ba):
Huruf Jar.
اللَّهِ
(Allahi):
Lafzul Jalalah, Isim Majrur. Tanda jarnya kasrah.
Koneksi:
Jar dan Majrur ini muta'alliq (terikat) dengan fi'il
Aamannaa.
6.
وَبِالْيَوْمِ
الْآخِرِ (Wa
bil-yaumil-aakhiri)
الْوَاوُ
(Al-Wawu):
Huruf ‘Atf (kata sambung).
بِالْيَوْمِ
(Bil-Yaumi):
Jar dan Majrur. Di-'athaf-kan
(disambungkan) kepada Billaahi.
الْآخِرِ
(Al-Aakhiri):Na’at
(Sifat/Adjektiva) untuk Al-Yaumi.
Karena Al-Yaumi
majrur (kasrah), maka Al-Aakhiri
juga majrur (kasrah).
7.
وَمَا
هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (Wa
maa hum bi-mu'miniin)
Ini
adalah bagian yang sangat kuat secara balaghah (retorika).
الْوَاوُ
(Al-Wawu):Wawu Haliyyah
(Wawu yang menjelaskan keadaan). Artinya "padahal" atau
"sedangkan".
مَا
(Maa):
Ini adalah Maa
Al-Hijaziyyah
yang beramal seperti Laisa
(menafikan). Ia me-rafa'-kan isim dan me-nashob-kan khabar.
هُمْ
(Hum):
Dhomir munfashil (kata ganti terpisah). Berkedudukan sebagai Isim
Maa (Subjek
dari Maa).
بِمُؤْمِنِينَ
(Bi-mu’miniin):
الْبَاءُ
(Al-Ba):
Huruf Jar Zaidah
(Tambahan). Fungsinya untuk Taukid
(penekanan kuat) pada penafian. Artinya "sama sekali bukan".
مُؤْمِنِينَ
(Mu’miniin):Khabar Maa.
Secara
lafaz (lafzhi): Majrur karena ada huruf Ba. Tanda jarnya adalah Ya
karena ia Jamak Mudzakkar Salim.
Secara
kedudukan (mahallan): Manshub (nashob) karena ia adalah Khabar
dari Maa.
Kedudukan
Kalimat: Jumlah Ismiyyah (Maa Hum Bimu'minin) berada dalam
posisi Nashob sebagai Haal (Keterangan Keadaan) dari dhomir
pada kata Yaqulu.
Poin
Penting & Kedalaman Makna (Balaghah)
Pergeseran
Dhomir (Kata Ganti):
Pada
kata يَقُولُ(dia
berkata), Al-Quran menggunakan bentuk tunggal (mufrad)
mengikuti lafaz kata Man.
Namun
pada kata آمَنَّا(kami
beriman) dan هُمْ(mereka),
Al-Quran menggunakan bentuk jamak. Ini mengikuti makna
dari kata Man.
Ini
menunjukkan bahwa kemunafikan itu diucapkan secara lisan
(individu/kolektif), namun klaim keimanan mereka dan penolakan
Allah terhadap iman mereka berlaku bagi kelompok tersebut secara
keseluruhan.
Penekanan
Penolakan (Nafi):
Allah
tidak sekadar mengatakan "Wa maa aamanuu" (dan mereka
tidak beriman), tetapi menggunakan struktur: Maa + Hum + Bi (Zaidah)
+ Isim Fa'il (Mu'minin).
Penggunaan
Isim Fa'il (Mu'minin) menunjukkan ketetapan.
Huruf
Ba Zaidah memberikan penekanan mutlak.
Artinya:
"Mereka itu sama sekali, benar-benar bukan termasuk
golongan orang yang beriman (secara substansi)."
Ringkasan
Struktur
Kata/Frasa
Kedudukan
Gramatikal (I'rab)
Wa
Minan-Naasi
Khabar
Muqaddam (Predikat di awal)
Man
Mubtada'
Mu'akhar (Subjek di akhir)
Yaqulu...
Shilah
Maushul (Anak kalimat penjelas subjek)
Aamannaa...
Maqulul
Qaul (Isi perkataan)
Wa
Maa Hum...
Jumlah
Haliyyah (Kalimat keterangan keadaan/sanggahan)