Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 78

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: 'Ini adalah dari sisi Allah', dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: 'Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)'. Katakanlah: 'Semuanya (datang) dari sisi Allah'. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

Irab Surat AnNisa ayat 78

Ayat ini melanjutkan pembahasan tentang kematian dan ketakutan yang disinggung di ayat sebelumnya (4:77), dengan menegaskan bahwa kematian akan menjemput setiap orang di manapun ia berada, dan kemudian mencela sikap orang munafik yang menyalahkan Nabi Muhammad ketika ditimpa keburukan.

🧐 Analisis I'rāb (Gramatikal)

I. Bagian Pertama: Kepastian Kematian

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

أَيْنَمَا (Aynamā)

Ism Syarṭ Jāzim (Kata Syarat Tempat)

Ẓarf Makān (Keterangan Tempat) dan Majzūm secara kedudukan.

تَكُونُوا (Takūnū)

Fi'l Muḍāri' Tāmm Majzūm

Fi'l Syarṭ (Kata Kerja Syarat). Majzūm dengan ḥaḍfu an-nūn. Wāw al-Jamā'ah adalah Fā'il.

يُدْرِككُّمُ (Yudrikkumu)

Fi'l Muḍāri' Majzūm

Jawāb Syarṭ (Jawaban Syarat). Majzūm dengan sukūn. Kum (كم) adalah Maf'ūl bih.

الْمَوْتُ (Al-mawtu)

Fā'il (Subjek)

Marfū'.

وَ (Wa)

Wāw al-Ḥāl (Wāw Keadaan)

Menghubungkan kalimat keadaan.

لَوْ كُنتُمْ (Law kuntum)

Law (Harf Syarṭ Ghayr Jāzim) dan Kāna Nāqiṣah

Kāna adalah Fi'l Syarṭ. Tum (ـتم) adalah Ism Kāna. Jawāb Law (yaitu Idrāku al-Mawt) dihilangkan karena telah disebutkan di awal.

فِي بُرُوجٍ (Fī burūjin)

Jārr wa Majrūr

Khabar Kāna pada posisi naṣb (secara kedudukan).

مُّشَيَّدَةٍ (Mušayyadahtin)

Na'at (Sifat)

Majrūr, mengikuti Burūjin. Artinya: "yang diperkokoh/ditinggikan."



II. Bagian Kedua: Sikap Munafik Terhadap Nasib Baik dan Buruk

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَإِن تُصِبْهُمْ (Wa in tuṣibhum)

Wāw al-'Aṭf dan In (Harf Syarṭ Jāzim) + Fi'l Muḍāri' Majzūm

Fi'l Syarṭ. Hūm (ـهم) adalah Maf'ūl bih.

حَسَنَةٌ (Ḥasanatun)

Fā'il (Subjek)

Marfū'. Artinya: "kebaikan/kemenangan."

يَقُولُوا (Yaqūlū)

Fi'l Muḍāri' Majzūm

Jawāb Syarṭ. Majzūm dengan ḥaḍfu an-nūn.

هَٰذِهِ مِنْ عِندِ اللَّهِ (Hāḏihī min 'indi Allāhī)

Ism Išārah (Mubtada') + Jārr wa Majrūr (Khabar)

Maqūl al-Qaul (Isi Ucapan) pada posisi naṣb.

وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ (Wa in tuṣibhum sayyi'atun)

'Aṭaf

Struktur syarat yang sama. Sayyi'atun adalah Fā'il. Artinya: "keburukan/kekalahan."

يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِكَ (Yaqūlū hāḏihī min 'indika)

'Aṭaf

Jawāb Syarṭ dan Maqūl al-Qaul. Min 'Indika (dari sisimu/Muhammad) adalah Khabar.

III. Bagian Ketiga: Jawaban Ilahi dan Pencelaan

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

قُلْ (Qul)

Fi'l Amr (Kata Kerja Perintah)

Fā'il-nya ḍamīr mustatir (anta).

كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ (Kullun min 'indi Allāhī)

Kullun (Mubtada') + Jārr wa Majrūr (Khabar)

Maqūl al-Qaul (Isi Ucapan) pada posisi naṣb. Kullun Marfū' dengan tanwīn sebagai pengganti Muḍāf Ilaih yang dihilangkan (Kullu wāḥidin - Setiap sesuatu).

فَ (Fa)

Fā' al-Faṣīḥah

Fā' yang menunjukkan kesimpulan atau akibat dari fakta bahwa semua datang dari Allah.

مَا لِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ (Mā li hā'ulā'i al-qawmi)

(Ism Istifhām - Pertanyaan)

Mubtada'. Bermakna inkār (kecaman). Li hā'ulā'i adalah Khabar.

لَا يَكَادُونَ (Lā yakādūna)

(Nāfiyah) + Fi'l Muḍāri' Nāqiṣ

Kalimat ini adalah Ḥāl (Keadaan) bagi Hā'ulā'i (ـؤلائ) pada posisi naṣb. Wāw al-Jamā'ah adalah Ism Yakādūna.

يَفْقَهُونَ حَدِيثًا (Yafqahūna ḥadīṯan)

Fi'l Muḍāri' + Maf'ūl bih

Khabar Yakādūna pada posisi naṣb. Artinya: "hampir tidak mereka pahami perkataan."


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Struktur Syarat-Jawaban Universal (Aynamā... Yudrikkum): أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ adalah hukum kausalitas abadi: di mana pun kalian berada, kematian pasti akan menyusul.

  2. Wāw al-Ḥāl dan Law (Walau): Frasa وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ adalah kalimat keadaan (Ḥāl) yang menekankan bahwa kepastian kematian tidak dapat dibatalkan, bahkan jika mereka berada di tempat yang paling kokoh.

  3. Sikap Munafik (Pengecualian Kebaikan):

    • Kebaikan (Ḥasanatun) diakui berasal dari Allah (مِنْ عِندِ اللَّهِ).

    • Keburukan (Sayyi'atun) disalahkan kepada Nabi Muhammad (مِنْ عِندِكَ).

  4. Kullun: Kata كُلٌّ (semuanya) dalam قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ memiliki tanwīn yang menggantikan Muḍāf Ilaih yang dihilangkan (Kullu wāḥidin), berfungsi sebagai Mubtada' yang menegaskan bahwa sumber kebaikan dan keburukan adalah satu, yaitu Allah.

  5. Pencelaan Akhir (Mā li hā'ulā'i): فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ (Maka mengapa kaum ini?) adalah kecaman keras. لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا (hampir tidak mereka pahami perkataan) adalah Ḥāl (keadaan) mereka, menunjukkan betapa bebalnya mereka dalam memahami logika dasar ketuhanan. Yakādūna adalah Fi'l Muqāraba (kata kerja pendekatan/hampir).

Ayat ini menyanggah dualisme teologis kaum munafik, menegaskan keesaan sumber segala peristiwa (baik dan buruk) dari Allah, dan mencela keras kebodohan mereka.