Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 64

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Irab Surat AnNisa ayat 64

Ayat ini menjelaskan tujuan utama diutusnya setiap Rasul dan Nabi, yaitu untuk ditaati dengan izin Allah, dan bagaimana mekanisme pengampunan bekerja bagi orang-orang yang berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri (berbuat dosa).

🧐 Analisis I'rāb (Gramatikal)

I. Bagian Pertama: Tujuan Diutusnya Rasul

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَ (Wa)

Wāw Isti'nāfiyyah

Memulai kalimat baru.

مَا ()

Harf Nafy (Negasi)

Artinya: "Tidak."

أَرْسَلْنَا (Arsalnā)

Fi'l Māḍī (Kata Kerja Lampau)

(نا) adalah Fā'il (Kami/Allah).

مِن رَّسُولٍ (Min rasūlin)

Min (Jārr Zā'idah) dan Rasūlin

Rasūlin adalah Maf'ūl bih bagi Arsalnā pada posisi naṣb (secara kedudukan), tetapi Majrūr secara lafaz karena Min Zā'idah untuk penekanan.

إِلَّا (Illā)

Harf Ḥaṣr (Pembatas)

Membuat kalimat menjadi negasi + pembatasan (Tidak Kami utus... kecuali).

لِيُطَاعَ (Liyuṭā'a)

Lām (Jārr - Li al-Ta'līl / Lām Sebab) + An Muḍmarah + Fi'l Muḍāri' Majhūl Manṣūb

Lām dan An Muḍmarah membentuk Maṣdar Mu'awwal yang adalah Jārr wa Majrūr terkait dengan Arsalnā. Artinya: "kecuali agar ditaati."

بِإِذْنِ اللَّهِ (Bi iḏni Allāhī)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq dengan Liyuṭā'a. Allāhī adalah Muḍāf Ilaih.



II. Bagian Kedua: Hukum Syarat tentang Pengampunan

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَ (Wa)

Wāw Isti'nāfiyyah

Memulai kalimat baru.

لَوْ (Law)

Harf Syarṭ Ghayr Jāzim (Huruf Syarat yang Tidak Menjazmkan)

Artinya: "Sekiranya/Andai kata."

أَنَّهُمْ (Annahum)

Anna (Harf Taukid) dan Hūm (Ism Anna)

Maṣdar Mu'awwal (Annahum iḏ ẓalamū...) adalah Fā'il dari Fi'l yang dihilangkan (Ṡabata atau Ḥaṣala), yang merupakan Fi'l Syarṭ bagi Law.

إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ (Iḏ ẓalamū anfusahum)

Iḏ (Ẓarf Zamān - Keterangan Waktu)

Manṣūb terkait dengan Jā'ūka. Ẓalamū (Fi'l Māḍī) adalah Muḍāf Ilaih dari Iḏ.

جَاءُوكَ (Jā'ūka)

Fi'l Māḍī

Jā'ūka adalah Fi'l Syarṭ dari Law (secara makna).

فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ (Fa istaġfarū Allāha)

Fā' ('Aṭf) + Fi'l Māḍī + Maf'ūl bih

Di-'aṭaf-kan kepada Jā'ūka.

وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ

'Aṭaf

Ar-Rasūlu adalah Fā'il dari Istaġfara.

لَوَجَدُوا (Lawajadū)

Lām (Jawab Law) dan Fi'l Māḍī

Lām adalah tanda bahwa ini adalah Jawāb Syarṭ untuk Law. Wāw al-Jamā'ah adalah Fā'il.

اللَّهَ (Allāha)

Maf'ūl bih Awwal (Objek Pertama)

Manṣūb.

تَوَّابًا رَّحِيمًا (Tawwāban raḥīman)

Maf'ūl bih Ṡānī (Objek Kedua) dan Na'at

Manṣūb. Raḥīman adalah Na'at untuk Tawwāban.


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Gaya Bahasa Pembatasan (Mā... Illā): Penggunaan مَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا (Tidak Kami utus seorang Rasul pun kecuali...) adalah Uslūb al-Ḥaṣr (Gaya Bahasa Pembatasan). Ini menegaskan bahwa satu-satunya tujuan utama pengutusan Rasul adalah untuk ditaati.

  2. Lām at-Ta'līl: لِيُطَاعَ (agar ditaati) menggunakan Lām al-Ta'līl (Lām Sebab) yang menjadikan Fi'l Muḍāri' pasif (يُطَاعَ) berstatus Manṣūb.

  3. Hukum Syarat Law: Ayat ini menggunakan struktur syarat لَوْ... لَ (sekiranya... niscaya).

    • Fi'l Syarṭ (Syarat): Diperkirakan Ṡabata atau Ḥaṣala (sebagai Fā'il dari Maṣdar Mu'awwal Annahum), dan perbuatan yang dimaksud adalah جَاءُوكَ (mereka datang kepadamu) dan فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ (memohon ampun kepada Allah).

    • Jawāb Syarṭ (Jawaban): لَوَجَدُوا اللَّهَ... (niscaya mereka akan mendapati Allah...). Lām pada Lawajadū adalah tanda wajib dari jawaban Law.

  4. Kedatangan kepada Rasul: Keadaan orang-orang munafik/zalim (إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ) dihubungkan dengan tindakan جَاءُوكَ (datang kepadamu). Ini menunjukkan bahwa kedatangan kepada Rasul (Nabi Muhammad ) adalah langkah penting dalam proses taubat dan memohon syafaat, yang kemudian diikuti dengan istighfar kepada Allah.

  5. Kata Kerja Dua Objek (Wajadū): Kata kerja وَجَدُوا (mereka dapati) di sini adalah Fi'l yang memiliki dua objek (menunjukkan perubahan atau keadaan):

    • Objek 1: اللَّهَ (Allah).

    • Objek 2: تَوَّابًا (Maha Penerima Taubat).

Ayat ini menyimpulkan bahwa ketaatan kepada Rasul adalah bagian intrinsik dari keimanan, dan bahwa pintu taubat terbuka lebar—bahkan bagi para pelaku kezaliman (Ẓālim)—melalui istighfar yang tulus dan pengakuan di hadapan Rasul (atau dalam konteks modern, mengikuti sunnah dan ajaran beliau).