Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 47

Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merobah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat ma'siat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.

Irab Surat AnNisa ayat 47

Ayat ini berisi panggilan tegas kepada Ahli Kitab, khususnya Yahudi, untuk beriman kepada Al-Qur'an (yang membenarkan Kitab mereka) sebelum datang hukuman yang menghapus tanda-tanda kenabian atau kutukan yang mengubah wajah.

I. Bagian Pertama: Panggilan dan Perintah Beriman

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ

Nidā' (Panggilan)

Panggilan kepada Ahli Kitab. أُوتُوا الْكِتَابَ adalah Ṣilah (Anak Kalimat Penghubung), di dalamnya al-Kitāba adalah Maf'ūl bih Ṡānī.

آمِنُوا (Āminū)

Fi'l Amr (Kata Kerja Perintah)

Mabnī 'alā ḥaḍfi an-nūn. Wāw al-Jamā'ah adalah Fā'il (Subjek).

بِمَا (Bi mā)

Bā' (Jārr) + (Ism Mawṣūl Majrūr)

Jārr wa Majrūr terkait dengan Āminū. Artinya: "terhadap apa yang."

نَزَّلْنَا (Nazzalnā)

Fi'l Māḍī + (Fā'il)

Ṣilah al-Mawṣūl untuk مَا.

مُصَدِّقًا (Muṣaddiqan)

Ḥāl (Keadaan)

Manṣūb (berharakat fatḥah). Menjelaskan keadaan مَا (Al-Qur'an), yaitu "dalam keadaan membenarkan".

لِّمَا مَعَكُم (Li mā ma'akum)

Lām (Jārr) + (Ism Mawṣūl Majrūr)

Jārr wa Majrūr terkait dengan Muṣaddiqan. Ma'akum adalah Ẓarf Makān (keterangan tempat) yang berfungsi sebagai Ṣilah bagi .




II. Bagian Kedua: Batas Waktu dan Ancaman Hukuman

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

مِّن قَبْلِ (Min qabli)

Min (Jārr) + Qabli (Majrūr)

Jārr wa Majrūr terkait dengan Āminū. Qabli adalah Muḍāf.

أَن نَّطْمِسَ (An naṭmisa)

An Nāṣibah + Fi'l Muḍāri' Manṣūb

Naṣb dengan fatḥah. Fā'il-nya ḍamīr mustatir (Kami/Allah). Maṣdar Mu'awwal (An Naṭmisa) adalah Muḍāf Ilaih bagi Qabli (Majrūr).

وُجُوهًا (Wujūhan)

Maf'ūl bih (Objek)

Manṣūb.

فَنَرُدَّهَا (Fa naruddahā)

Fā' ('Aṭf) dan Fi'l Muḍāri' Manṣūb

Di-'aṭaf-kan kepada نَطْمِسَ, sehingga ia juga Manṣūb. Hā' (ـها) adalah Maf'ūl bih.

عَلَىٰ أَدْبَارِهَا ('Alā adbārihā)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq dengan Naruddahā.

أَوْ نَلْعَنَهُمْ (Aw nal'anahum)

Aw ('Aṭf) dan Fi'l Muḍāri' Manṣūb

Di-'aṭaf-kan kepada نَطْمِسَ, sehingga ia juga Manṣūb. Hūm (ـهم) adalah Maf'ūl bih.

كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ

Kāf (Jārr - menyerupai) + (Maṣdariyyah) + La'annā (Fi'l Māḍī)

Maṣdar Mu'awwal dari Mā La'annā adalah Majrūr dengan Kāf. Artinya: "seperti kutukan Kami terhadap..."

أَصْحَابَ (Aṣḥāba)

Maf'ūl bih (Objek) dari La'annā.

Manṣūb.


III. Bagian Ketiga: Penutup Ayat

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَكَانَ (Wa kāna)

Wāw (Istināf) dan Fi'l Māḍī Nāqiṣah

Mabnī 'alā al-fatḥ.

أَمْرُ اللَّهِ (Amru Allāhi)

Ism Kāna (Subjek Kāna)

Marfū'. Muḍāf.

مَفْعُولًا (Maf'ūlan)

Khabar Kāna (Predikat Kāna)

Manṣūb (berharakat fatḥah).


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Ḥāl Muṣaddiqan: Kata مُصَدِّقًا (yang membenarkan) adalah Ḥāl (keterangan keadaan) bagi مَا نَزَّلْنَا (Al-Qur'an). Ini menunjukkan bahwa salah satu sifat Al-Qur'an adalah membenarkan kebenaran yang ada pada Taurat dan Injil.

  2. Maṣdar Mu'awwal dalam Jarr: Frasa مِن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ (sebelum Kami menghapus) adalah contoh di mana Maṣdar Mu'awwal (أَن نَّطْمِسَ) berada pada posisi jarr karena ia adalah Muḍāf Ilaih bagi Qabli.

  3. Ancaman Ber-'Aṭaf' (Sambung): Tiga kata kerja Muḍāri' yang di-'aṭaf-kan dan semuanya Manṣūb karena di-'aṭaf-kan kepada An Naṭmisa:

    • نَّطْمِسَ (menghapus/menghilangkan)

    • فَنَرُدَّهَا (lalu Kami kembalikan/balikkan wajah itu)

    • أَوْ نَلْعَنَهُمْ (atau Kami mengutuk mereka)

  4. Implikasi Naruddahā: Frasa فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا (lalu Kami balikkan wajah-wajah itu ke belakang) adalah Fā' ('Aṭf) yang menunjukkan bahwa pembalikan wajah adalah akibat langsung dari penghapusan tanda-tanda wajah (نَّطْمِسَ وُجُوهًا).

  5. Ka-mā La'annā: كَمَا لَعَنَّا (seperti Kami mengutuk) menggunakan Kāf (Jārr) sebagai penyerupa, merujuk kepada hukuman yang pernah menimpa أَصْحَابَ السَّبْتِ (orang-orang yang melanggar pada hari Sabat).

Ayat ini merupakan peringatan terakhir yang keras kepada Ahli Kitab untuk menerima kenabian Muhammad dan Al-Qur'an, atau menghadapi hukuman duniawi yang berat dan pasti, karena وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا (ketetapan Allah pasti terlaksana).