Ayat ini berfungsi sebagai pertanyaan retoris yang menegaskan bahwa
tidak ada kerugian yang menimpa orang-orang beriman jika mereka
berinfak dengan ikhlas dan beriman penuh, karena Allah Maha
Mengetahui dan Maha Bijaksana.
I. Bagian Pertama:
Pertanyaan Retoris dan Kondisi Keimanan
Kata
|
I'rāb (Kedudukan
Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
وَمَاذَا
(Wa māḏā)
|
Wāw (Istināf)
dan Mā + Ḏā (Ism Istifhām)
|
Ism Istifhām
(Kata Tanya) pada posisi raf' sebagai Mubtada'.
Artinya: "Dan apa kerugiannya (bagi mereka)?"
|
عَلَيْهِمْ
('Alayhim)
|
Jārr wa Majrūr
|
Khabar
(Predikat) dari مَاذَا
pada posisi raf' (secara makna).
|
لَوْ
(Law)
|
Harf Syarṭ Ghayr
Jāzim (Huruf Syarat yang Tidak Menjazmkan)
|
Mengindikasikan syarat
yang tidak terjadi (hipotetis).
|
آمَنُوا
(Āmanū)
|
Fi'l Māḍī
(Kata Kerja Lampau)
|
Fā'il-nya
adalah Wāw al-Jamā'ah. Kalimat ini adalah Fi'l Syarṭ
(Kata Kerja Syarat).
|
بِاللَّهِ
(Bil-lāhī)
|
Jārr wa Majrūr
|
Muta'alliq
(terkait) dengan Āmanū.
|
وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ (Wa al-yawmi al-ākhirī)
|
Wāw ('Aṭf)
dan Ma'ṭūf
|
Majrūr
(di-'aṭaf-kan kepada Lafẓ al-Jalālah).
|
وَأَنفَقُوا
(Wa anfaqū)
|
Wāw ('Aṭf)
dan Fi'l Māḍī
|
Di-'aṭaf-kan kepada
Āmanū.
|
مِمَّا
(Mimmā)
|
Min (Jārr) + Mā
(Ism Mawṣūl Majrūr)
|
Jārr wa Majrūr
terkait dengan Anfaqū.
|
رَزَقَهُمُ
(Razaqahumu)
|
Fi'l Māḍī.
Hā' (ـهم)
adalah Maf'ūl bih.
|
|
اللَّهُ
(Allāhu)
|
Fā'il (Subjek)
|
Marfū'.
|
🔑 Poin Utama I'rāb
Ayat
Gaya Bahasa Istifhām Inkārī: Pertanyaan
وَمَاذَا
عَلَيْهِمْ (Dan apa kerugiannya atas
mereka?) adalah Istifhām Inkārī (pertanyaan retoris untuk
penolakan/pengingkaran). Jawabannya tersirat: Tidak ada kerugian
sama sekali yang akan menimpa mereka.
Syarat Tanpa Jawaban Tertulis (Law):
Huruf لَوْ
(seandainya/jika) adalah Harf Syarṭ Ghayr Jāzim
(tidak menjazmkan). Jawaban dari syarat لَوْ
آمَنُوا... (Seandainya mereka
beriman...) tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi dipahami dari
konteks: La mā ḍarrahum šay'un (Niscaya tidak ada
sesuatu pun yang merugikan mereka).
Implikasi Mimmā Razaqahumu Allāhu: Frasa
مِمَّا رَزَقَهُمُ
اللَّهُ (dari apa yang Allah rezekikan
kepada mereka) menekankan bahwa infak yang dilakukan seharusnya
bukanlah dari harta mereka sendiri secara mutlak, melainkan dari
rezeki yang pada dasarnya adalah pemberian Allah. Ini
berfungsi untuk menghancurkan sifat riya' dan kekikiran
yang dibahas di ayat 37 dan 38.
Penegasan Sifat Allah: Penutup وَكَانَ
اللَّهُ بِهِمْ عَلِيمًا حَكِيمًا
(Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka, Maha
Bijaksana) menjelaskan mengapa mereka tidak perlu khawatir. Allah
mengetahui segala amal perbuatan mereka dan akan membalasnya dengan
bijaksana. بِهِمْ
(tentang mereka/keadaan mereka) terkait dengan
'Alīman (Maha Mengetahui).
Ayat ini menyajikan perbandingan antara kerugian besar yang
ditimbulkan oleh kekafiran, riya', dan kekikiran, dengan manfaat
besar yang didapatkan melalui keimanan dan infak yang ikhlas.