Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 38

Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

Irab Surat AnNisa ayat 38

Ayat ini melanjutkan kecaman terhadap sifat-sifat buruk yang bertentangan dengan perintah berbuat baik (ayat 36), khususnya mengungkit perbuatan orang-orang yang berinfak (bersedekah) hanya karena riya' (pamer) dan tidak beriman kepada Allah serta Hari Akhir.

I. Bagian Pertama: Mencela Infak Riya' dan Ketiadaan Iman

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَالَّذِينَ (Wa al-laḍīna)

Wāw ('Aṭf) dan Ism Mawṣūl (Kata Sambung)

Ma'ṭūf (Diikuti) kepada الَّذِينَ di ayat 37. Oleh karena itu, ia berada pada posisi naṣb (sebagai Na'at atau Maf'ūl bih dari Yuḥibbu yang diulang).

يُنفِقُونَ (Yunfiqūna)

Fi'l Muḍāri' (Kata Kerja Sekarang/Akan Datang)

Marfū' dengan tsubūt an-nūn. Wāw al-Jamā'ah adalah Fā'il (Subjek). Kalimat ini adalah Ṣilah al-Mawṣūl untuk الَّذِينَ.

أَمْوَالَهُمْ (Amwālahum)

Maf'ūl bih (Objek)

Manṣūb (berharakat fatḥah).

رِئَاءَ (Riyā'a)

Maf'ūl Li Ajlih (Objek Alasan)

Manṣūb (berharakat fatḥah). Artinya: "karena riya'/pamer." Muḍāf.

النَّاسِ (An-nāsi)

Muḍāf Ilaih (Sandaran Kata)

Majrūr.

وَلَا يُؤْمِنُونَ (Wa lā yu'minūna)

Wāw ('Aṭf) dan Lā Nāfiyah + Fi'l Muḍāri' Marfū'

Di-'aṭaf-kan kepada Yunfiqūna. Menunjukkan bahwa mereka tidak hanya riya', tetapi juga tidak beriman.

بِاللَّهِ (Bil-lāhī)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq (terkait) dengan Yu'minūna.

وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ (Wa lā bil-yawmi al-ākhirī)

Wāw ('Aṭf) dan Jārr wa Majrūr

Di-'aṭaf-kan kepada Bil-lāhī. Al-Ākhiri adalah Na'at untuk Al-Yawmi (Majrūr).




II. Bagian Kedua: Ancaman dan Kesimpulan Mengenai Setan

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَمَن (Wa man)

Wāw (Istināf/I'tirāḍiyyah) dan Man (Syarat Jāzim)

Mubtada' (Subjek) pada posisi raf'.

يَكُنِ (Yakuuni)

Fi'l Muḍāri' Nāqiṣah Majzūm

Fi'l Syarṭ (Kata Kerja Syarat). Tanda jazm-nya sukūn yang diubah menjadi kasrah karena Iltiqā' as-Sākinayn (pertemuan dua sukun).

الشَّيْطَانُ (Aš-šayṭānu)

Ism Yakun (Subjek Yakun)

Marfū' (berharakat ḍammah).

لَهُ (Lahū)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq dengan قَرِينًا.

قَرِينًا (Qarīnan)

Khabar Yakun (Predikat Yakun)

Manṣūb (berharakat fatḥah).

فَسَاءَ (Fa sā'a)

Fā' (Jawāb Syarṭ) dan Fi'l Māḍī Jāmid

Jawāb Syarṭ pada posisi jazm. Sā'a adalah Fi'l Ḏamm (Kata Kerja Pencelaan) yang tidak bisa diubah bentuknya. Fā'il-nya adalah ḍamīr mustatir yang ditafsirkan oleh Tamyīz.

قَرِينًا (Qarīnan)

Tamyīz (Penjelas/Pembeda)

Manṣūb (berharakat fatḥah).

Jumlah فَسَاءَ قَرِينًا

Jawāb Syarṭ

Pada posisi jazm (secara keseluruhan kalimat).


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Kedudukan Al-laḍīna (Ayat 38): وَالَّذِينَ (Dan orang-orang yang...) di-i'rāb sebagai Ma'ṭūf kepada الَّذِينَ di ayat 37. Kedua ayat tersebut bersama-sama menjelaskan siapa 'orang-orang yang sombong dan kikir' yang tidak dicintai Allah. Dengan demikian, الَّذِينَ di ayat 38 berada pada posisi naṣb.

  2. Maf'ūl Li Ajlih (Alasan): Kata رِئَاءَ (karena riya'/pamer) adalah Maf'ūl Li Ajlih. Ini menjelaskan alasan mereka berinfak. Infak yang diterima harus didasari Ibtighā' Marḍātillāh (mencari keridaan Allah), bukan Riyā' an-Nās (pamer kepada manusia).

  3. Hukum Syarat-Jawaban Syarat (Man Yakun... Fa Sā'a): Bagian penutup adalah ancaman bersyarat:

    • Syarat: وَمَن يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا (Dan siapa yang Setan menjadi temannya).

    • Jawaban: فَسَاءَ قَرِينًا (maka amatlah buruk teman itu).

  4. Fi'l Ḏamm dan Tamyīz: فَسَاءَ (maka amatlah buruk) adalah Fi'l Jāmid (kata kerja tidak berubah/tetap) yang digunakan untuk mencela. قَرِينًا yang kedua di-i'rāb sebagai Tamyīz (penjelas), yang secara gramatikal menjelaskan subjek tak terlihat (Fā'il) dari سَاءَ. Subjeknya diperkirakan adalah Huwa (dia) yang kembali ke Qarīnan (teman) secara umum.

Intinya, ayat ini mencela orang-orang munafik yang berinfak hanya untuk pamer dan tidak memiliki landasan iman, menunjukkan bahwa setan adalah penyebab buruknya perbuatan mereka.