Ayat ini melanjutkan pembahasan mengenai kehendak Allah dalam
menetapkan syariat, kali ini menyoroti tujuan Allah untuk
meringankan beban umat Islam dan bahaya mengikuti hawa nafsu.
I. Bagian Pertama:
Kehendak Allah (Taubat dan Keringanan)
Kata
|
I'rāb (Kedudukan
Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
وَاللَّهُ
(Wa Allāhu)
|
Wāw (Istināf)
dan Lafẓ al-Jalālah
|
Mubtada'
(Subjek) pada posisi raf'.
|
يُرِيدُ
(Yurīdu)
|
Fi'l Muḍāri'
(Kata Kerja Sekarang/Akan Datang)
|
Marfū'
(berharakat ḍammah). Fā'il-nya ḍamīr
mustatir kembali ke Allah. Kalimat ini adalah Khabar
(Predikat) dari اللَّهُ
pada posisi raf'.
|
أَن
يَتُوبَ (An yatūba)
|
An Nāṣibah
dan Fi'l Muḍāri' Manṣūb
|
Yatūba adalah
Manṣūb dengan fatḥah. Maṣdar Mu'awwal
(أَن يَتُوبَ)
adalah Maf'ūl bih (Objek) dari يُرِيدُ
pada posisi naṣb. Artinya: "Allah
menghendaki penerimaan taubat dari kalian."
|
عَلَيْكُمْ
('Alaykum)
|
Jārr wa Majrūr
|
Muta'alliq
(terkait) dengan Yatūba.
|