1.
I'rab Surah Al-Baqarah Ayat 242
Kata
|
Jenis
I'rab
|
Kedudukan
/ Keterangan
|
كَذَٰلِكَ (Kadzālika)
|
Harf
+ Ism Isyārah
|
Kāf harf
jarr (huruf perumpamaan), berkaitan
dengan yubayyinu. Dzālika ism
isyārah (kata tunjuk) dalam posisi jar (majrūr).
Maknanya: seperti itulah.
|
يُبَيِّنُ (Yubayyinu)
|
Fi'il
Mudhāri'
|
Fi'il
mudhāri' marfū' dengan dhammah. (Artinya:
Dia menjelaskan).
|
ٱللَّهُ (Allāhu)
|
Ism
|
Fā'il (subjek)
bagi yubayyinu, marfū' dengan dhammah.
|
لَكُمْ (lakum)
|
Harf
+ Dhamīr
|
Lām harf
jarr. Kum majrūr secara mahall. Al-Jār
wa al-majrūr berkaitan dengan yubayyinu.
|
ءَايَٰتِهِۦ (āyātihī)
|
Ism
|
Maf'ūl
bih (objek)
bagi yubayyinu, manshūb dengan kasrah (sebagai
pengganti fathah) karena merupakan jam'
mu'annats sālim (plural feminin salim). Hī mudhāf
ilaih.
|
لَعَلَّكُمْ (la'allakum)
|
Harf
+ Dhamīr
|
La'alla harf
tawaqqu' (huruf harapan/kemungkinan)
dan nashb (penashab). Kum ism
la'alla (manshūb secara mahall).
|
تَعْقِلُونَ (ta'qilūna)
|
Fi'il
Mudhāri'
|
Fi'il
mudhāri' marfū' dengan tsubūt
an-nūn. Wāwu fā'il. Jumla ini
dalam posisi raf'u sebagai khabar
la'alla (predikat la'alla).
|
2.
Penjelasan Singkat Makna I'rab
Ayat
ini berfungsi sebagai penutup dan kesimpulan dari
serangkaian ayat-ayat hukum panjang (mulai dari talak, iddah, mahar,
hingga wasiat).
Kadzālika
Yubayyinu (كَذَٰلِكَ
يُبَيِّنُ):
Kāf tasybīh (perumpamaan)
pada awal ayat merujuk kembali kepada cara
penjelasan seluruh hukum yang telah diuraikan dalam
ayat-ayat sebelumnya. Artinya, "Sebagaimana Allah telah
menjelaskan hukum-hukum talak, iddah, dan nafkah dengan sangat
rinci dan jelas, seperti itulah Dia menjelaskan
ayat-ayat-Nya yang lain."
Āyātihī
(ءَايَٰتِهِۦ):
Secara
gramatikal, kata ini menunjukkan kasus i'rab yang
menarik. Karena ia adalah jam' mu'annats sālim (bentuk
plural feminin yang beraturan), ia dinashabkan (manshūb)
dengan tanda kasrah, bukan fathah. Tanda i'rab ini
penting untuk menunjukkan bahwa yang dijelaskan Allah
adalah ayat-ayat-Nya (sebagai objek).
La'allakum
Ta'qilūn (لَعَلَّكُمْ
تَعْقِلُونَ):
Frasa
ini menyatakan tujuan atau hikmah di
balik penjelasan hukum yang begitu detail. Tujuan tersebut adalah
agar manusia berpikir, memahami, dan menggunakan
akal (ta'qilūn) mereka untuk menerima dan
mengamalkan hukum-hukum tersebut. Ini menempatkan akal sebagai
alat penting untuk memahami syariat.