| Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barang siapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As Sunah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. |
1. Bagian Awal: Syarat dan
Jawab Syarat (Hukum Talak dan Rujuk)
Kata
|
I'rab
|
Keterangan
|
وَإِذَا
(Wa
idza)
|
Wawu
adalah huruf 'athf (penghubung). Idza adalah dzarf
(kata keterangan waktu) yang mengandung makna syarat, berkaitan
dengan f'am-sikūhunna.
|
|
طَلَّقْتُمُ
(thallaqtumu)
|
Fi'il
mādhī (kata kerja lampau). Tā’ dhummah adalah
fā'il (subjek). Jumla (kalimat) ini dalam posisi
mahallu jar (kedudukan majrūr) sebagai mudhāf ilaih
(yang disandarkan) bagi idzā.
|
|
ٱلنِّسَآءَ
(an-nisā’a)
|
Maf'ūl
bih (objek) bagi thallaqtum, manshūb
(dinashabkan) dengan fathah.
|
|
فَبَلَغْنَ
(fa
balaghna)
|
Fā'
adalah harf 'athf (huruf penghubung). Balaghna
adalah Fi'il mādhī yang mabnī 'alā as-sukūn
(dibangun di atas sukun). Nūn an-niswah adalah fā'il.
Jumla ini ma'thūf (dihubungkan) pada thallaqtum.
|
|
أَجَلَهُنَّ
(ajalahunna)
|
Maf'ūl
bih bagi balaghna, manshūb dengan fathah.
Hā' adalah mudhāf ilaih. (Makna "mencapai
ajalnya" di sini adalah mendekati akhir masa iddah).
|
|
فَأَمْسِكُوهُنَّ
(fa
amsikūhunna)
|
Fā'
adalah fā' al-jāmi'ah (fā' jawab syarat). Amsikū
adalah fi'il amr (kata kerja perintah), mabnī 'alā
hadzfi an-nūn (dibangun di atas penghilangan nūn). Wāwu
al-jamā'ah adalah fā'il. Hunna adalah maf'ūl
bih. Jumla ini lā mahalla lahā min al-i'rāb
(tidak memiliki kedudukan dalam i'rāb) sebagai jawab syarat
bagi idzā.
|
|
بِمَعْرُوفٍ
(bi
ma'rūfin)
|
Jār
wa majrūr (preposisi dan kata yang dimajrūrkan) berkaitan
dengan amsikūhunna.
|
|
أَوْ
سَرِّحُوهُنَّ
(au
sarrihūhunna)
|
Au
adalah harf 'athf. Sarrihūhunna di-'athf
pada amsikūhunna, i'rābnya sama.
|
|
بِمَعْرُوفٍ
(bi
ma'rūfin)
|
Jār
wa majrūr berkaitan dengan sarrihūhunna.
|
|
2. Bagian Larangan Pertama
(Larangan Merugikan)
Kata
|
I'rab
|
Keterangan
|
وَلَا
تُمْسِكُوهُنَّ
(wa
lā tumsikūhunna)
|
Wāwu
adalah harf 'athf. Lā adalah lā nāhiyah
(lā larangan), jāzimah (menjazmkan). Tumsikū
adalah fi'il mudhāri' majzūm (kata kerja sedang/akan
yang dijazmkan) dengan hadzf an-nūn (penghilangan nūn).
Wāwu adalah fā'il. Hunna adalah maf'ūl
bih.
|
|
ضِرَارًا
(dhirāran)
|
Maf'ūl
li ajlih (objek karena), manshūb dengan fathah.
Artinya: karena maksud memberi kemudaratan.
|
|
لِّتَعْتَدُوا۟
(li
ta'tadū)
|
Lām
adalah lām at-ta'līl (lām sebab). Ta'tadū
adalah fi'il mudhāri' manshūb (dinashabkan) oleh an
yang tersembunyi (mudhmarah) setelah lām. Tanda
nashabnya adalah hadzf an-nūn (penghilangan nūn).
Al-mashdar al-mu'awwal (bentuk masdar yang ditakwilkan,
yaitu an + fi'il) dalam posisi jar (majrūr)
oleh lām. Al-jār wa al-majrūr (frasa
preposisional) ini berkaitan dengan dhirāran.
|
|
3. Bagian Peringatan (Ancaman
bagi Pelaku Kezaliman)
Kata
|
I'rab
|
Keterangan
|
وَمَن
يَّفْعَلْ
(wa
man yaf'al)
|
Wāwu
adalah harf istī'nāf (huruf permulaan kalimat baru).
Man adalah ism syart (kata syarat) mabnī 'alā
as-sukūn (dibangun di atas sukun), dalam posisi raf'u
(marfū') sebagai mubtada’ (subjek). Yaf'al
adalah fi'il syart (kata kerja syarat), majzūm
dengan sukūn.
|
|
ذَٰلِكَ
(dzālika)
|
Ism
isyārah (kata tunjuk), dalam posisi nashb (manshūb)
sebagai maf'ūl bih bagi yaf'al.
|
|
فَقَدْ
ظَلَمَ نَفْسَهُۥ
(fa
qad zhalama nafsahu)
|
Fā'
adalah fā' rābitah (fā' penghubung, yaitu jawab
syarat). Qad adalah harf tahqīq (huruf penguat).
Zhalama adalah fi'il mādhī, fā'il-nya
adalah dhamīr mustatir (kata ganti tersembunyi) yang
kembali kepada man. Nafsahu adalah maf'ūl bih.
Jumla ini dalam posisi raf'u (marfū') sebagai
khabar (predikat) bagi man.
|
|
4. Bagian Larangan Kedua dan
Perintah Mengingat Nikmat
Kata
|
I'rab
|
Keterangan
|
وَلَا
تَتَّخِذُوٓا۟
(wa
lā tattakhidzū)
|
Wāwu
adalah harf 'athf. Lā adalah lā nāhiyah.
Tattakhidzū adalah fi'il mudhāri' majzūm dengan
hadzf an-nūn. Wāwu adalah fā'il.
|
|
ءَايَٰتِ
ٱللَّهِ
(āyātillāhi)
|
Āyāti
adalah maf'ūl bih awwal (objek pertama), manshūb
dengan kasrah karena merupakan jam' mu'annats sālim
(plural feminin salim). Allāh adalah mudhāf ilaih,
majrūr dengan kasrah.
|
|
هُزُوًا
(huzuwan)
|
Maf'ūl
bih tsānī (objek kedua), manshūb dengan fathah.
|
|
وَٱذْكُرُوا۟
(wadz-kurū)
|
Wāwu
adalah harf 'athf. Udz-kurū adalah fi'il amr
dengan hadzf an-nūn. Wāwu adalah fā'il.
|
|
نِعْمَتَ
ٱللَّهِ
(ni'matallāhi)
|
Ni'mata
adalah maf'ūl bih, manshūb dengan fathah.
Allāh adalah mudhāf ilaih, majrūr dengan
kasrah.
|
|
عَلَيْكُمْ
('alaikum)
|
Jār
wa majrūr berkaitan dengan udzkurū (atau
hālan (keadaan) dari ni'mah).
|
|
وَمَآ
أَنزَلَ
(wa
mā anzala)
|
Wāwu
adalah harf 'athf. Mā adalah ism mausūl
(kata sambung) dalam posisi nashb (manshūb) di-'athf
pada ni'mata. Anzala adalah fi'il mādhī,
fā'il-nya adalah dhamīr mustatir (Huwa)
yang kembali kepada Allāh.
|
|
عَلَيْكُم
('alaikum)
|
Jār
wa majrūr berkaitan dengan anzala.
|
|
مِّنَ
ٱلْكِتَٰبِ
(minal
kitābi)
|
Jār
wa majrūr berkaitan dengan hāl (keadaan)
bagi mā (yaitu kā'inan minal kitābi).
|
|
وَٱلْحِكْمَةِ
(wal
hikmah)
|
Wāwu
adalah harf 'athf. Al-hikmati di-'athf pada
al-kitābi, majrūr dengan kasrah.
|
|
يَعِظُكُم
بِهِۦ
(ya'izhukum
bihi)
|
Ya'izhu
adalah fi'il mudhāri', fā'il-nya dhamīr
mustatir (Huwa) kembali kepada Allāh. Kum
adalah maf'ūl bih. Bihi adalah jār wa majrūr
berkaitan dengan ya'izhu. Jumla ini dalam
posisi nashb (manshūb) sebagai hāl (keadaan)
dari mā anzala (atau dari Allāh).
|
|
5. Bagian Penutup (Perintah
Bertakwa dan Pengetahuan Allah)
Kata
|
I'rab
|
Keterangan
|
وَٱتَّقُوا۟
ٱللَّهَ
(wattaqullāha)
|
Wāwu
adalah harf 'athf. Ittaqū adalah fi'il amr
dengan hadzf an-nūn. Wāwu adalah fā'il.
Allāha adalah maf'ūl bih.
|
|
وَٱعْلَمُوٓا۟
(wa'lamū)
|
Wāwu
adalah harf 'athf. I'lamū adalah fi'il amr
dengan hadzf an-nūn. Wāwu adalah fā'il.
|
|
أَنَّ
ٱللَّهَ
(annallāha)
|
Anna
adalah harf taukīd wa nashb (huruf penguat dan
penashab). Allāha adalah ism anna (isim anna),
manshūb dengan fathah.
|
|
بِكُلِّ
شَىْءٍ
(bi
kulli syai'in)
|
Bikulli
adalah jār wa majrūr berkaitan dengan 'alīmun.
Syai'in adalah mudhāf ilaih.
|
|
عَلِيمٌ
('alīmun)
|
Khabar
anna (khabar anna), marfū' dengan dhammatain.
An-wa mā ba'dahā (anna dan setelahnya) yaitu
al-mashdar al-mu'awwal (annallāha... 'alīmun)
dalam posisi nashb (manshūb) sebagai masad maf'ūlain
(pengganti dua objek) bagi i'lamū.
|
|
Catatan
Penting mengenai I'rab:
Idzā
(إِذَا):
Seringkali dianggap sebagai dzarf
yang mengandung makna syarat dan jawabnya adalah fa
amsikūhunna.
Balaghna
Ajalahunna (فَبَلَغْنَ
أَجَلَهُنَّ):
Makna balaghn
(mencapai) di sini ditafsirkan sebagai qaribna
(mendekati), yaitu mendekati akhir masa iddah, karena perintah
amsikūhunna
(rujuk) atau sarrihūhunna
(biarkan iddah habis) hanya berlaku sebelum iddah berakhir.
Dhiraaran
(ضِرَارًا):
Merupakan maf'ūl
li ajlih, yang
menjelaskan tujuan dari perbuatan lā
tumsikūhunna
(janganlah kamu tahan/rujuk), yaitu tujuannya adalah memberi
mudarat.
Man
Yaf'al Dzālika (وَمَن
يَفْعَلْ ذَٰلِكَ):
Menggunakan uslūb
as-syarth
(gaya bahasa syarat) di mana man
adalah mubtada', yaf'al
adalah fi'il syarat, dan fa
qad zhalama nafsahu
adalah jawab syarat yang sekaligus menjadi khabar bagi man.