Ayat ini membahas tentang larangan
mengambil kembali mahar yang besar jika seseorang ingin menceraikan
istri dan menikahi wanita lain.
I.
Bagian Pertama: Ketentuan Syarat dan Jawab Syarat
Kata
|
I'rāb (Kedudukan
Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
وَإِنْ
(Wa in)
|
Wāw ('Aṭf)
dan In (Syarat Jāzim)
|
In adalah Ḥarf
Syarṭ Jāzim (huruf syarat yang menjazmkan).
|
أَرَدتُّمُ
(Aradtumū)
|
Fi'l Māḍī
(Kata Kerja Lampau)
|
Fi'l Syarṭ
(Kata Kerja Syarat) pada posisi jazm. Tā' (ـتم)
adalah Fā'il (Subjek).
|
اسْتِبْدَالَ
(Istibdāla)
|
Maf'ūl bih
(Objek)
|
Manṣūb
(berharakat fatḥah). Ia adalah Muḍāf
(disandarkan).
|
زَوْجٍ
(Zawjin)
|
Muḍāf Ilaih
(Sandaran Kata)
|
Majrūr
(berharakat kasrah).
|
مَّكَانَ
(Makāna)
|
Ẓarf Makān
(Keterangan Tempat)
|
Manṣūb
(berharakat fatḥah). Muḍāf.
|
زَوْجٍ
(Zawjin)
|
Muḍāf Ilaih
|
Majrūr.
|
وَآتَيْتُمْ
(Wa ātaytum)
|
Wāw (Ḥāliyyah
- keadaan) atau ('Aṭf) dan Fi'l Māḍī
|
Mabnī 'alā sukūn.
Tā' (ـتم)
adalah Fā'il.
|
إِحْدَاهُنَّ
(Iḥdāhunna)
|
Maf'ūl bih Awwal
(Objek Pertama)
|
Manṣūb dengan
fatḥah muqaddarah di atas alif. Hunn (ـهنَّ)
adalah Muḍāf Ilaih.
|
قِنْطَارًا
(Qinṭāran)
|
Maf'ūl bih Ṡānī
(Objek Kedua)
|
Manṣūb
(berharakat fatḥah).
|
فَلَا
تَأْخُذُوا (Fa lā ta'khuḍū)
|
Fā' (Jawāb
Syarṭ) dan Lā Nāhiyah + Fi'l Muḍāri' Majzūm
|
Jawāb Syarṭ
pada posisi jazm. Ta'khuḍū dijazmkan, tanda
jazm-nya adalah ḥaḍfu an-nūn. Wāw
al-Jamā'ah adalah Fā'il.
|
مِنْهُ
(Minhu)
|
Jārr wa Majrūr
|
Muta'alliq
(terkait) dengan Ta'khuḍū.
|
شَيْئًا
(Šay'an)
|
Maf'ūl bih
(Objek)
|
Manṣūb
(berharakat fatḥah).
|
🔑
Poin Utama I'rāb Ayat
Fi'l Syarṭ dan Jawab Syarṭ:
Ayat ini dibangun atas struktur syarat-jawaban syarat (وَإِنْ
أَرَدتُّمْ... فَلَا
تَأْخُذُوا).
Kata Kerja Dua Objek
(Ātaytum): Kata kerja وَآتَيْتُمْ
(dan kalian telah memberikan) adalah Fi'l yang
memiliki dua objek:
Objek 1: إِحْدَاهُنَّ
(salah seorang dari mereka—istri yang dicerai).
Objek 2: قِنْطَارًا
(harta yang banyak/mahar). Ini menunjukkan keagungan
mahar yang diberikan, dan betapa besarnya dosa mengambilnya
kembali.
Tanya Pengingkaran (Istifhām
Inkāri): Bagian أَتَأْخُذُونَهُ
بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
adalah pertanyaan retoris yang bermaksud mengingkari
dan mencela perbuatan tersebut. أ
(Hamzah) berfungsi sebagai Harf Istifhām.
Kalimat ini secara makna berfungsi sebagai penguatan dan ancaman.
Kedudukan Buhtānan:
Kata بُهْتَانًا
(kebohongan besar) di-i'rāb sebagai Ḥāl
(keadaan), yang menjelaskan bagaimana tindakan mengambil mahar
kembali itu terjadi: dilakukan dalam keadaan menuduh istri dengan
kebohongan (fitnah) agar mahar dapat dikembalikan.
Ayat ini merupakan salah satu
bentuk perlindungan Islam terhadap hak-hak wanita, menjamin mahar
mereka tidak boleh diambil kembali, terutama jika niat perceraian
datang dari pihak suami.