Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 15

Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.

Irab Surat AnNisa ayat 15






I. Bagian Pertama: Perintah Awal (Persaksian)

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَاللَّاتِي (Wa al-lātī)

Wāw (Istināf) dan Ism Mawṣūl (Kata Sambung)

Mubtada' (Subjek) pada posisi raf'. Al-Lātī adalah bentuk jamak dari Allatī.

يَأْتِينَ (Ya'tīna)

Fi'l Muḍāri' (Kata Kerja Sekarang/Akan Datang)

Marfū' dengan ḍammah muqaddarah di atas yā'. Nūn an-Niswa (نّ) adalah Fā'il (Subjek) pada posisi raf'.

الْفَاحِشَةَ (Al-fāḥišata)

Maf'ūl bih (Objek)

Manṣūb (berharakat fatḥah).

مِن نِّسَائِكُمْ (Min nisā'ikum)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq (terkait) dengan Ya'tīna atau sebagai Ḥāl (keadaan) dari Nūn an-Niswa.

Jumlah يَأْتِينَ... نِّسَائِكُمْ

Ṣilah al-Mawṣūl (Anak Kalimat Penghubung)

Tidak memiliki kedudukan i'rāb, berfungsi menjelaskan وَاللَّاتِي.

فَاسْتَشْهِدُوا (Fastashhidū)

Fā' (Zā'idah/Tambahan yang menyerupai Jawāb Syarṭ) dan Fi'l Amr

Fi'l Amr (Kata Kerja Perintah) mabnī 'alā ḥaḍfi an-nūn. Wāw al-Jamā'ah adalah Fā'il. Kalimat ini adalah Khabar (Predikat) dari وَاللَّاتِي (pada posisi raf').

أَرْبَعَةً (Arba'atan)

Maf'ūl bih (Objek)

Manṣūb (berharakat fatḥah).

مِّنكُمْ (Minkum)

Jārr wa Majrūr

Na'at (Sifat) untuk أَرْبَعَةً.




II. Bagian Kedua: Hukuman Awal (Kurungan)

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

فَإِن شَهِدُوا (Fa in šahidū)

Fā' ('Aṭf) dan In (Syarat Jāzim) + Fi'l Māḍī

Šahidū adalah Fi'l Syarṭ (Kata Kerja Syarat) pada posisi jazm. Wāw al-Jamā'ah adalah Fā'il.

فَأَمْسِكُوهُنَّ (Fa amsikūhunna)

Fā' (Jawāb Syarṭ) dan Fi'l Amr

Jawāb Syarṭ pada posisi jazm. Fi'l Amr mabnī 'alā ḥaḍfi an-nūn. Hunn (ـهنَّ) adalah Maf'ūl bih pada posisi naṣb.

فِي الْبُيُوتِ (Fī al-buyūti)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq dengan Amsikūhunna (Tahan mereka di rumah).

حَتَّىٰ يَتَوَفَّاهُنَّ (Ḥattā yatawaffāhunna)

Ḥattā (Harf Ghāyah - sampai) dan Fi'l Muḍāri' Manṣūb

Yatawaffā adalah Manṣūb oleh An Muḍmarah (An yang diperkirakan ada) setelah Ḥattā. Tanda naṣb-nya adalah fatḥah muqaddarah. Hunn (ـهنَّ) adalah Maf'ūl bih (Objek).

الْمَوْتُ (Al-mawtu)

Fā'il (Subjek) dari Yatawaffā

Marfū' (berharakat ḍammah).

أَوْ يَجْعَلَ (Aw yaj'ala)

Aw (Harf 'Aṭf) dan Fi'l Muḍāri' Manṣūb

Di'aṭafkan kepada يَتَوَفَّاهُنَّ, sehingga statusnya Manṣūb. Fā'il-nya adalah اللَّهُ.

سَبِيلًا (Sabīlan)

Maf'ūl bih

Manṣūb (berharakat fatḥah). Objek dari Yaj'ala.


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Mubtada' dan Khabar dalam Bentuk Kalimat Perintah: Ayat ini menggunakan struktur yang tidak biasa:

    • Mubtada': وَاللَّاتِي (para wanita yang...).

    • Khabar: Kalimat perintah فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً... (maka mintalah empat saksi...). Secara makna, Mubtada' ini menjelaskan siapa yang dimaksud oleh perintah tersebut.

  2. Kata Kerja Bersyarat (Syurūṭ): Terdapat dua kondisi utama yang memicu respons:

    • Kondisi 1: Wanita melakukan fāḥisyah. Respons: Minta saksi (4 orang).

    • Kondisi 2: Saksi benar-benar bersaksi (فَإِن شَهِدُوا). Respons: Tahan mereka di rumah (فَأَمْسِكُوهُنَّ).

  3. Hukuman Bersyarat Waktu (Ḥattā): Hukuman kurungan ini dibatasi oleh حَتَّىٰ (sampai), yang menunjukkan batas waktu hukuman, yaitu sampai mati (يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ) atau sampai Allah menetapkan ketentuan lain (أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا).

    • Kata kerja يَتَوَفَّاهُنَّ dan يَجْعَلَ adalah Manṣūb karena didahului oleh An Muḍmarah setelah Ḥattā atau di-'aṭaf-kan kepada Fi'l Manṣūb.

Ayat ini adalah hukum awal yang kemudian dinasakh (digantikan) oleh ayat 24:2 (hukum cambuk) dan hadis Nabi Muhammad (hukum rajam) setelah turunnya hukum final mengenai sabīlan (jalan/ketentuan lain) dari Allah.