Bolehkah Meninggalkan Sholat Jumat Bila Berbarengan dengan Ied ?

7/16/2015

Sebagaimana yang kita maklumi bahwa Iedul Fitri 1436 H tahun sekarang kuat dugaan akan jatuh pada hari Jumat, 17 Juli 2015. Sehubungan dengan terjadinya pertemuan dua ied, yaitu Iedul fitri/iedul adha dan hari Jum’at,  maka ada  beberapa ketetapan syariat yang perlu kita perhatikan. Namun sebelum masuk kepada pembahasan itu, perlu disampaikan pula ketetapan wajib Jumat secara umum:
Sebagaimana telah kita maklumi bahwa proses penetapan syariat ibadah Jum’at ditetapkan berdasarkan dua hidayah: 
Pertama, bi an-nash, yaitu dengan turun surat al-Jumu’ah:9. 
Kedua, bi al-ijtihad, yaitu keinginan para sahabat untuk memiliki hari Ied yang beda dengan Yahudi dan Nashara. Dan ini disebut hidayah at-taufiq.

Sejarah turunnya ayat tersebut telah dijelaskan oleh Imam at-Thabari dan Ibnu Ishaq sebagai berikut: “Sebelum sampai di Madinah (waktu itu bernama Yatsrib), Rasulullah saw. singgah di Quba pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 kenabian (24 September 622 M)  waktu Dhuha (sekitar jam 8.00 atau 9.00). Di tempat ini, beliau tinggal di keluarga Amr bin Auf selama empat hari hingga hari Kamis 15 Rabi’ul Awwal (27 September 622 M) dan membangun mesjid pertama (yang disebut mesjid Quba). Pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal (28 September 622 M), beliau berangkat menuju Madinah. [1] Di tengah perjalanan, ketika beliau berada di Bathni wadin (lembah di sekitar Madinah) milik keluarga Banu Salim bin ‘Auf, datang kewajiban Jumat dengan turunnya ayat 9 surat al-Jum’ah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Maka Nabi salat Jumat bersama mereka dan khutbah di tempat itu. Inilah salat dan khutbah Jumat yang pertama kali dilakukan oleh beliau. Setelah melaksanakan salat Jumat, Nabi melanjutkan perjalanan menuju Madinah”.[2]
Pada saat yang sama, para sahabat laki-laki yang sudah lebih dahulu hijrah dan tinggal di Madinah, melaksanakan salat Jum’at di imami oleh As’ad bin Zurarah (riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah). Pelaksanaan salat ini didasarkan atas ijtihad sahabat, yaitu keinginan para sahabat untuk memiliki hari Ied yang beda dengan Yahudi dan Nashara. [3]

Sebelum ayat ini turun, selama 3 tahun (sejak disyariatkan salat)[4], salat yang ditaklifkan (disyariatkan) bagi kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan), baik ketika safar atau mukim, pada hari Jumat waktu zhuhur adalah salat zuhur. Namun sejak turun ayat itu (tahun 1 hijriah) salat yang ditaklifkan menjadi dua macam: Pertama, taklif salat zhuhur. Kedua, taklif salat Jumat. Bagi siapa taklif salat Jumat itu? Dalam hal ini Nabi bersabda:
عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ
Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi saw.. saw.. beliau bersabda, “Jum’at itu adalah hak yang wajib bagi setiap muslim secara berjama’ah kecuali empat golongan; hamba sahaya, perempuan, anak-anak, dan yang sakit.” H.r. Abu Daud[5]

Hadis tersebut menegaskan bahwa taklif salat Jumat itu adalah bagi laki-laki muslim yang sehat lagi merdeka, baik ketika safar maupun muqim. Sedangkan bagi wanita, laki-laki yang sakit yang tidak dapat menghadiri Jumat, dan hamba sahaya tidak dikenai taklif salat Jumat. Dengan perkataan lain, taklif bagi mereka tidak berubah dengan turunnya ayat tersebut, yakni tetap salat zhuhur. Jadi, seolah-olah bagi 4 golongan tersebut ayat 9 surat al-Jumu'ah itu tidak ada. Demikian ketentuan umum salat Jumat.

Ketentuan Khusus Ied jatuh pada hari Jumat
Sebagiamana kita maklumi bahwa sepanjang hayat Rasulullah saw. Mengalami iedul fitri dan iedul Adha sebanyak Sembilan kali. Iedul Fitri perdana Nabi terjadi pada hari Senin, 1 Syawal 1 H/26 Maret 624 M. Sedangkan Iedul Fitri terakhir Senin, 1 Syawal 10 H/30 Desember 631 M. Dari 9 kali iedul fitri yang dialami Nabi, hanya satu kali yang terjadi pada hari Jumat, yaitu 1 Syawal 3 H yang bertepatan dengan 15 Maret 625 M.
Pada saat itulah Rasulullah saw. menetapkan beberapa syariat Jumat ketika Ied jatuh pada hari Jumat, sebagai berikut:
Pertama, di dalam khutbah Ied waktu itu Rasulullah bersabda:
قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هذَا عِيْدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَأْتِيَ الْجُمُعَةَ فَلْيَأْتِهَا وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتَخَلَّفَ فَلْيَتَخَلَّفْ
“Pada hari ini telah bersatu dua ied, maka siapa yang akan melaksanakan salat Jum’at maka datanglah, dan siapa yang akan meninggalkannya (tidak melaksanakannya), maka tinggalkanlah.” H.r. Ibnu Majah.
Dalam redaksi lainnya:
فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ - رواه أبو داود–
siapa yang mau yang merasa cukup (tidak melaksanakan salat Jum’at), maka salat ied ini mencukupkan dari (salat) Jum’at, dan sesungguhnya kami akan melaksanakan salat Jum’at.” H.r. Abu Daud
Sabda Rasul di atas menjelaskan bahwa bagi laki-laki yang telah melaksanakan Ied diberikan dua pilihan: Boleh (rukhsah) Tidak melaksanakan salat Jum’at dan Boleh pula melaksanakan solat Jum’at. Sehubungan dengan itu orang yang mendaifkan hadis ied pada hari Jumat perlu ketelitian dan kehati-hatian.
Kemudian peristiwa ied pada hari Jumat terjadi pula pada masa sahabat Rasul, yaitu masa kekhalifahan Umar, Usman bin Affan, dan Ali sebagaimana diterangkan oleh Abu Ubaid dalam riwayat Al-Bukhari, Abdur Razaq, dan Ibnu Hiban. Ied yang terjadi pada masa ini adalah Iedul Adha. Kemudian pada masa kekhalifahan Ibnuz Zubair terjadi pula iedul Fitri pada hari Jum’at, yaitu 1 Syawal 64 H/29 Juni 713 M (Lihat, Fathul Bari,  III:129).
Kedua, dibolehkannya laki-laki yang telah salat ied untuk tidak melaksanakan salat Jum’at jangan di artikan bahwa salat ied sebagai salat sunat telah mengalahkan salat Jum’at yang wajib, karena bagi laki-laki jika pada pagi harinya telah melaksanakan salat ied, ia dipandang telah melaksanakan salat Jum’at. Hal itu sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh sahabat Ibnu Zubair
قَالَ عَطَاءٌ اجْتَمَعَ يَوْمُ جُمُعَةٍ وَيَوْمُ فِطْرٍ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ  - رواه أبو داود -
Atha berkata, “Hari Jum’at dan Iedul Fitri telah berkumpul pada hari yang sama di zaman Ibnu Zubair. Ibnu Zubair berkata, ‘Dua ied berkumpul pada hari yang sama. Lalu ia menjama’ keduanya, yaitu salat dua rakaat (salat ied) pada pagi hari, ia tidak melaksanakan salat apapun (tidak salat zhuhur) sampai ia salat Ashar”. H.r. Abu Daud
Berdasarkan hadis ini, laki-laki yang melaksanakan salat Ied dipandang telah melaksanakan salat Jum’at. Ibnu Zubair tidak salat Jum’at lagi dan tidak pula salat zuhur (pembahasan tentang tidak perlu dzuhur dimuat secara terpisah). Amaliah Ibnu Zubair tidak menyalahi ketentuan syara, tapi justru mengamalkan sabda Rasulullah yang disampaikan pada khutbah ied-nya: Faman Sya-a ajza-ahu minal jumati.
Ketiga, Muncul berbagai pertanyaan di beberapa daerah, khususnya di Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Subang seputar kaifiyat/tata cara pelaksanaan salat ied sehubungan Ied jatuh pada hari Jumat. Karena ada sebagian fatwa yang menyatakan bahwa apabila Ied jatuh pada hari Jumat maka pelaksanaan salat Ied berubah, yaitu Salat Ied dilaksanakan setelah Khutbah seperti pada salat Jumat. Padahal apabila kita perhatikan keterangan-2 yang layak untuk dipercayai maka pelaksanaan salat ied tetap sebagaimana biasa, yaitu dilaksanakan sebelum khutbah Ied. Adapun keterangan Wahab bin Kaisan dalam riwayat an-Nasai yang menyatakan bahwa Ibnu Zuber khutbah dulu lalu salat (seperti pada salat Jumat) tidak dapat diterima karena pemberitaan itu bertentangan dengan keterangan Shahibul waqi’ (pelaku peristiwa), yaitu Atha bin Abu Rabbah bahwa Ibnu Zuber salat Ied dulu lalu Khutbah sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
kesimpulan:
  1. Laki-laki yang telah melaksanakan salat ied dipandang telah melaksanakan salat Jumat.
  2. Laki-laki yang telah melaksanakan salat ied, pada siang harinya boleh tidak melaksanakan salat Jum’at dan tidak perlu diganti dengan salat zuhur, serta boleh pula untuk melaksanakan Jumat, yang hukumnya menjadi sunat/mustahab.
  3. Laki-laki yang tidak melaksanakan salat ied tidak diberikan pilihan kecuali tetap wajib melaksanakan salat Jumat.
  4. Bagi perempuan walaupun telah melaksanakan salat ied, tetap wajib melaksanakan salat zuhur
5. Kaifiyat pelaksanaan ied pada hari Jumat sebagaimana biasa, yaitu dimulai oleh salat kemudian khutbah.



[1]Konversi (perbandingan hijriah ke masehi) di atas berdasarkan perhitungan sebagian ahli hisab. Sedangkan ahli hisab lainnya menghitung bahwa Nabi singgah di Quba itu pada hari Senin 8 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan tanggal 20 Maret 622 M. Dan berangkat hingga sampai di Madinah hari Jumat 12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan 24 Maret 622 M. Lihat, Almanak Alam Islami, 2000:184

[2]Lihat, Tarikh at-Thabari, I:571; Sirah Ibnu Hisyam, juz III, hal. 22; Tafsir al-Qurthubi, juz XVIII, hal. 98

[3]Lihat, Fathul Bari, III:4

[4]Salat lima waktu disyariatkan pada malam Mi'raj tiga tahun sebelum hijrah sebanyak 11 rakaat, masing-masing 2 rakaat kecuali salat maghrib 3 rakaat, baik bagi musafir maupun muqim. Setelah hijrah, masing-masing ditambah 2 rakaat kecuali Maghrib dan subuh (17 rakaat). Namun setelah turun ayat 101 surat an-Nisa tahun 4 hijriah, maka bagi musafir salat itu  dapat dilakukan 2 rakaat (Lihat, Fathul Bari, I:554; Taudhihul Ahkam Syarah Bulugh al-Maram, I:469)

[5]Lihat, Sunan Abu Daud, I:347. Ada orang yang berpendapat bahwa hadis Thariq ini tidak dapat dipakai hujjah, karena: (1) Pada sanadnya terdapat rawi yang bernama Huraim. Menurut Ibnu Hazm, Huraim adalah rawi yang majhul (tidak terkenal). Karena itu, hadis yang pada sanadnya terdapat rawi yang majhul tidak dapat dipakai hujjah, karena tidak dapat diketahui apakah rawi itu benar atau tidak. (2) Thariq bin Syihab, walaupun ia bertemu dengan Nabi saw.. tetapi tidak mendengar apapun dari beliau. Karena itu, tentu ia mendengar dari orang lain yang tidak disebut namanya.  Hadis yang seperti ini disebut mursal, sedangkan hadis mursal itu tidak boleh dipakai hujjah.
Tanggapan
(1)   Pernyataan majhul dari Ibnu Hazm terhadap Huraim bin Sufyan tertolak, karena ia telah dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Saad, Al-‘Ijli (Lihat, Tahdzibul Kamal, 1994,  XXX:169). Karena itu, rawi tersebut dipergunakan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahih-nya (Lihat, Shahih al-Bukhari, Dar al-Salam, Riyadh, 1997, hal. 235,  No. hadis 1199; Shahih Muslim, Dar al-Fikr, Beirut, 1992, I:242, No. hadis 538).
(2)   Hadis yang dikatakan oleh sahabat dari Nabi saw.. padahal ia tidak mendengar secara langsung dari beliau, disebut mursal sahabi. Menurut ahli hadis mursal shahabi dapat dipakai hujjah. Meskipun demikian, hadis tersebut sebenarnya tidak mursal sahabi, karena pada riwayat Al-Hakim, Thariq bin Syihab menerima dari sahabat lain, yaitu Abu Musa. Adapun keterangan lengkapnya sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الفَقِيْهُ ثَنَا عُبَيْدُ بْنُ مُحَمَّدٍ العِجْلِيُّ حَدَّثَنِي الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيْمِ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُوْرٍ ثَنَا هُرَيْمُ بْنُ سُفْيَانَ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِيْ مُوْسَى عَنِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم  قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ – المستدرك على الصحيحين 1: 425 -
Keterangan para rawi Abu Daud dan Al-Hakim di atas
[a] Al-Abbas bin Abdul Azhim (w. 246 H). An-Nasai berkata, “Tsiqat” (Lihat, Tahdzibul Kamal, 1994,  XIV:222-225)
[b] Ishaq bin Manshur. Ibnu Main berkata, “Laisa bihi Ba’sun (tsiqat)” (Lihat, Tahdzibul Kamal, 1994,  II:478-480)
[c] Huraim bin Sufyan. Ibnu Main berkata, “Tsiqat” (Lihat, Tahdzibul Kamal, 1994,  XXX:169).
[d] Ibrahim bin Muhamad bin al-Muntasyir. Abu Hatim berkata, “Tsiqat” (Lihat, Tahdzibul Kamal, 1994,  II:183-184).
[f] Qais bin Muslim. Ibnu Main berkata, “Tsiqat” (Lihat, Tahdzibul Kamal, 1994,  XXIV:81-83).
[g] Thariq bin Syihab sahabat Rasul
[h] Abu Musa Shahabat Rasul

Amin Saefullah Muchtar

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »