Mengetahui Keutamaan-Keutamaan Al-Quran

6/10/2015

Abu `Ubaid al-Qasim bin Salam berkata dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: "Al-Quran diturunkan sekaligus dalam satu waktu ke langit dunia ketika Lailatul Qadar. Setelah itu, diturunkan secara bertahap selama duapuluh tahun." Kemudian ia membaca: 
وَقُرآنًا فَرَقناهُ لِتَقرَأَهُ عَلَى النّاسِ عَلىٰ مُكثٍ وَنَزَّلناهُ تَنزيلًا
"Dan al-Qur-an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." 
(QS. Al-Israa': 106). 

Dan ini adalah sanad yang shahih.

Sedangkan mengenai bermukimnya beliau (Yaitu Nabi) di Madinah selama sepuluh tahun, hal itu tidak termasuk masalah yang diperselisihkan. Adapun (waktu) bermukimnya beliau di Makkah setelah kenabian, maka yang populer adalah tiga belas tahun, karena beliau mendapatkan wahyu pertama pada usia 40 (empatpuluh) tahun dan beliau wafat pada usia 63 (enampuluh tiga) tahun menurut pendapat yang benar.

Kemudian, dimulailah penurunan wahyu itu di tempat yang mulia, yaitu negeri suci (Makkah), sebagaimana berlangsung pada waktu yang mulia pula, yaitu bulan Ramadhan. Dengan demikian, padanya tergabung kemuliaan waktu dan tempat.

Oleh karena itu, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan al-Qur-an pada bulan Ramadhan, karena pada bulan itulah dimulainya penurunan al-Qur-an. Dan karena itu pula, Jibril mengkomparasikannya dengan Rasulullah setiap tahun pada bulan Ramadhan. Dan pada tahun di mana Rasulullah wafat, Jibril mendatangi beliau dua kali untuk melakukan hal yang sama dalam rangka memberi penekanan sekaligus mempertegas. Selain itu, di dalam hadits juga terdapat penjelasan yang menyebutkan bahwa di antara al-Qur-an itu ada surat/ayat Makkiyyah (diturunkan di Makkah) dan ada juga Madaniyyah (diturunkan di Madinah). Surat/ayat Makkiyyah diturunkan sebelum hijrah, sedangkan Madaniyyah diturunkan setelah hijrah, baik itu di Madinah maupun di tempat lainnya sekalipun di Makkah maupun `Arafah.

Mereka juga bersepakat mengenai surat-surat al-Qur-an, bahwa ia Makkiyyah dan yang lainnya Madaniyyah. Dan mereka berbeda pendapat mengenai yang terakhir.


`Abdullah bin Yusuf memberitahu kami (Yakni, al-Bukhari), dari Abu Hurairah, dia berkata: "Nabi bersabda:
'Tidak ada seorang Nabi pun melainkan diberikan sesuatu yang semisal dengannya, kepadanya manusia beriman. Hanya raja aku diberi wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku. Oleh karena itu, aku berharap memiliki pengikut yang paling banyak di antara mereka pada hari Kiamat kelak.'"

Diriwayatkan juga di dalam kitab al-I'tishaam dari 'Abdul `Aziz bin `Abdillah, Muslim, dan an-Nasa-i.

Di dalam hadits tersebut terdapat fadhilah (keutamaan) yang sangat besar bagi al-Qur-an al-Majid atas semua mukjizat yang diberikan kepada para Nabi dan atas semua Kitab yang diturunkan. Hal itu bisa dilihat dari pengertian bahwasanya tidak ada seorang Nabi pun melainkan diberi -berbagai macam mukjizat- yang dipercaya oleh ummat manusia. Yakni, sesuatu yang menjadi bukti yang membenarkan apa yang dibawa kepada mereka, dan ia diikuti oleh sebagian orang. Kemudian pada saat para Nabi itu meninggal dunia, maka tidak ada dari mukjizat-mukjizat itu yang tersisa sepeninggal mereka kecuali apa yang diceritakan oleh para pengikut mereka dari apa yang mereka saksikan pada zaman mereka.


Adapun Rasul penutup risalah Muhammad, maka sebagian besar dari apa yang diberikan Allah kepada beliau adalah berupa wahyu dari-Nya yang kemudian dibawa kepada seluruh ummat manusia secara mutawatir. Arti-nya, setiap saat ia berada dalam kondisi seperti ketika diturunkan. Olehkarena itu, beliau bersabda: "Karenanya, aku berharap memiliki pengikut yang paling banyak di antara mereka." Dan demikianlah kenyataan yang terjadi, di mana pengikut beliau lebih banyak daripada pengikut Nabi-Nabi lainnya karena keumuman risalah beliau dan keabadiannya sampai hari Kiamat tiba serta berlanjutnya mukjizat beliau. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman:

 تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الفُرقانَ عَلىٰ عَبدِهِ لِيَكونَ لِلعالَمينَ نَذيرًا
"Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (yaitu al-Qur-an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." 
(QS. Al-Furqaan: 1)
Dan Dia juga berfirman:
قُل لَئِنِ اجتَمَعَتِ الإِنسُ وَالجِنُّ عَلىٰ أَن يَأتوا بِمِثلِ هٰذَا القُرآنِ لا يَأتونَ بِمِثلِهِ وَلَو كانَ بَعضُهُم لِبَعضٍ ظَهيرًا
"Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur-an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'" 
(QS. Al-Israa': 88)

Kemudian mereka diminta (membuat) yang lebih sedikit jumlahnya sampai sepuluh surat, di mana Dia berfirman:
أَم يَقولونَ افتَراهُ ۖ قُل فَأتوا بِعَشرِ سُوَرٍ مِثلِهِ مُفتَرَياتٍ وَادعوا مَنِ طَعتُم مِن دونِ اللَّهِ إِن كُنتُم صادِقينَ 
"Bahkan mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat al-Qur-an itu.' Katakanlah: '(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh suratsurat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.'" 
(QS. Huud: 13)

Selanjutnya, Dia menantang mereka untuk mendatangkan satu surat saja sepertinya, namun mereka tidak akan pernah mampu melakukannya. Karena itu, Dia berfirman:
 أَم يَقولونَ افتَراهُ ۖ قُل فَأتوا بِسورَةٍ مِثلِهِ وَادعوا مَنِ استَطَعتُم مِن دونِ اللَّهِ إِن كُنتُم صادِقينَ
"Atau (patutkah) mereka mengatakan: Muhammad membuat-buatnya.' Katakanlah: '(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar." 
(QS. Yunus: 38). 

Kemudian tantangan itu difokuskan pada posisi ini di dalam beberapa surat Makkiyyah, sebagaimana yang juga telah kami sebutkan di dalam surat Madaniyyah, seperti misalnya di dalam surat al-Baqarah, di mana Dia berfirman: 


"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur-an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur-an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir." 
(QS. Al-Baqarah: 23-24)

Dan Allah Ta'ala memberitahukan bahwa mereka tidak akan mampu mendatangkan hal yang serupa dengannya. Dan mereka tidak akan pernah melakukan hal tersebut di masa yang akan datang.


Demikianlah, padahal mereka merupakan orang yang paling fashih dan paling banyak mengetahui ilmu Balaghah dan sya'ir serta yang semisalnya, tetapi datang kepada mereka dari Allah apa yang tidak akan datang dari seorang manusia pun ungkapan yang fasih lagi mendalam, singkat tetapi mencakup berbagai ilmu pengetahuan yang sangat banyak yang benar lagi bermanfaat. Juga memuat berita-berita yang benar, dan mengupas tentang alam ghaib yang terjadi pada masa lalu maupun yang akan datang serta memuat hukum-hukum yang adil lagi tegas, sebagaimana Dia berfirman: 


"Telah sempurnalah kalimat Rabb-mu (al-Qur-an) sebagai kalimat yang benar dan adil." 
(QS. Al-An'aam: 115)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dia berkata: "Anas bin Malik memberitahuku bahwa Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya secara berangsur-angsur sebelum beliau wafat sampai akhir hayatnya lebih banyak dan kadar wahyu biasanya, hingga akhirnya Rasulullah wafat." 


Demikian pula yang diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa-i. Artinya bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya sedikit demi sedikit, setiap saat, sesuai dengan apa yang diperlukan oleh beliau. Kemudian ada satu masa wahyu itu tidak turun, yaitu saat pertama kali setelah Malaikat Jibril turun pertama kali dengan membawakan firman Allah Ta'ala: 
اقرَأ بِاسمِ رَبِّكَ
("Bacalah dengan Nama Rabb-mu," )

di mana wahyu terhenti sesaat. Ada yang menyatakan, hampir mencapai waktu dua tahun atau lebih. Setelah itu, wahyu kembali turun secara berangsur. Ayat yang pertama kali turun setelah masa itu adalah: 
(1) يا أَيُّهَا المُدَّثِّرُ
 (2) قُم فَأَنذِر
"Hai orangyangberkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan."
(QS. Al-Muddatstsir: 1-2)

Imam al-Bukhari mengatakan: "Al-Qur-an diturunkan melalui lisan kaum Quraisy dan Arab, sebagai al-Qur-an yang berbahasa Arab dengan lisan Arab yang sangat jelas." Abul Yaman memberitahu kami, Syu'aib mem-beritahu kami, dari az-Zuhri, Anas bin Malik memberitahuku, dia berkata: "Maka `Utsman bin `Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit, Sa'id bin al-`Ash, `Abdullah bin az-Zubair, dan `Abdullah bin al-Harits bin Hisyam untuk me-nuliskan ayat-ayat al-Qur-an di dalam mush-haf seraya berkata kepada mereka: Jika kalian berbeda pendapat, dengan Zaid pada salah satu bahasa Arab al-Quran, maka hendaklah kalian menulisnya dengan lisan Quraisy karena sesungguhnya al-Qur-an itu diturunkan dengan lisan mereka.' Maka mereka pun mengerjakannya."


Hadits di atas merupakan potongan dari hadits yang tidak lama lagi akan diuraikan lebih lanjut. Maksud Imam al-Bukhari dalam hal tersebut sudah sangat jelas, yaitu bahwa al-Qur-an diturunkan dengan menggunakan bahasa kaum Quraisy, dan kaum Quraisy merupakan ringkasan dari masyarakat Arab. Oleh karena itu, Abu Bakar bin Abi Dawud menceritakan, `Abdullah bin Muhammad bin Khallad memberitahu kami, dari Jabir bin Samurah, dia berkata: "Aku pernah mendengar `Umar bin al-Khaththab mengatakan: Tidak ada yang mendiktekan ke dalam mush-haf-mush-haf kami ini melainkan orang-orang Quraisy atau orang-orang Tsaqif.'" Dan ini adalah sanad yang shahih. 

Tafsir Ibnu Katsir

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments