Download

Kajian Islam

Ramadhan

Recent Posts

Waktu Terjadi Gerhana Matahari di Beberapa Kota di Indonesia

Waktu Terjadi Gerhana Matahari di Beberapa Kota di Indonesia

3/06/2016 Add Comment
Waktu Terjadi Gerhana Matahari di Beberapa Kota di Indonesia
Surat Edaran Persis tentang Gerhana Matahari 2016
Dengan adanya gerhana matahari total yang terjadi pada hari Rabu, 09 Maret 2016. Maka, organisasi masyarakat PERSIS (Persatuan Islam) mengeluarkan surat edaran sebagai berikut :

Merujuk pada Almanak Persatuan Islam 1437 H, hasil perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam, maka dengan ini Pimpinan Pusat Persatuan Islam menyampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Hari Rabu, 09 Maret 2016 Insya Allah akan terjadi Gerhana Matahari (Total dan Sebagian) di seluruh wilayah Indonesia dengan data sebagai berikut :

  • Gerhana Matahari Total (GMT) akan terjadi di wilayah-wilayah : Palembang, Tanjung Pandan, Muko-muko (Bengkulu), Palangkaraya, Palu, Balikpapan, dan Ternate.
  • Selain daerah-daerah tersebut di atas akan terjadi Gerhana Matahari Sebagian (GMS).
2. Waktu Terjadi Gerhana
A. GERHANA MATAHARI TOTAL :
NO NAMA KOTA Kontak Awal Puncak Gerhana Kontak Akhir Ket.
1 Palembang 06.20 07.21 08.31 WIB
2 Tanjung Pandan 06.21 07.24 08.35 WIB
3 Muko-muko 06.19 07.19 08.27 WIB
4 Palangkaraya 06.23 07.30 08.46 WIB
5 Palu 07.28 08.38 10.00 WITA
6 Balikpapan 07.25 08.33 09.53 WITA
7 Ternate 08.36 09.53 11.20 WIT

B. GERHANA MATAHARI SEBAGIAN :
NO NAMA KOTA Kontak Awal Puncak Gerhana Kontak Akhir Ket.
1 Padang 06.21 07.20 08.27 WIB
2 Bandung 06.19 07.21 08.32 WIB
3 Jakarta 06.19 07.19 08.31 WIB
4 Surabaya 06.21 07.25 08.39 WIB
5 Pontianak 06.23 07.27 08.40 WIB
6 Denpasar 07.22 08.27 09.42 WITA
7 Banjarmasin 07.23 08.39 09.40 WITA
8 Makassar 07.25 08.34 09.54 WITA
9 Kupang 07.28 08.37 09.55 WITA
10 Manado 07.34 08.49 10.15 WITA
11 Ambon 08.33 09.49 11.16 WIT


3. Rentang waktu untuk melaksanakan shalat gerhana antara pukul 07.00 WIB sampai pukul 08.00 WIB. Dan untuk daerah lainnya agar menyesuaikan waktu pelaksanaan shalatnya dengan kejadian Gerhana di daerah masing-masing.
4. Sehubungan dengan kejadian gerhana matahari total tersebut di atas, kami anjurkan kepada seluruh jamaah dan simpatisan Persatuan Islam serta kaum muslimin untuk melaksanakan Shalat Gerhana pada waktunya. Untuk keseragaman pelaksanaan Shalat Gerhana dimaksud, untuk daerah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan sekitarnya kami atur sebagai berikut :
a. Mulai Takbir : Pukul 07.00 WIB
b. Shalat Gerhana : Pukul 07.30 WIB (dilanjutkan dengan khutbah, pengumpulan, dan pembagian shodaqoh)

Demikian hal ini kami sampaikan untuk dijadikan pedoman bagi seluruh anggota dan jajaran jam'iyyah serta kaum Muslimin pada umumnya.


facebook.com/infopersis/

Menyambut Gerhana Matahari Total, Rabu, 09 Maret 2016

3/06/2016 Add Comment
Gerhana Matahari Total. Rabu, 09 Maret 2016
Gerhana Matahari Total. Rabu, 09 Maret 2016
Dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhya Matahari dan Bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah, yang dengan keduanya Allah hendak menakut-nakuti hamba-Nya. Dan tidaklah terjadi gerhana pada keduanya karena kematian seseorang ataupun kelahirannya. Jika kalian melihat gerhana, maka shalat dan berdo’alah kepada Allah sampai Matahari kembali normal (seperti sedia kala).” (HR. Muslim, Shahih Muslim, II : 628)
Berdasarkan literatur sejarah shalat dapat dipastikan adanya syariat shalat gerhana setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Terjadi dua peristiwa gerhana Matahari pada periode Madinah: Pertama, gerhana tanggal 27 Januari 632 TU yang bersamaan dengan peristiwa wafatnya anak Rasulullah saw. bernama Ibrahim. Kedua, tanggal 21 April 627 TU.
Analisis astronomis menunjukkan bahwa gerhana yang terjadi di Madinah pada tahun 10 H itu adalah gerhana cincin pada pagi hari tanggal 27 Januari 632 TU (29 Syawal menjelang awal Dzulqa’dah 10 H). Pada saat itu di Madinah mengalami gerhana sebagian dengan kegelapan sekitar 85%.
Kota Madinah pada waktu itu hanya dapat mengamati gerhana Matahari partial (sebagian) yang diawali pukul 7:16:30,1 WM, dengan puncak gerhana terjadi pukul 8:29:43,8 WM dan akhir gerhana pukul 9:54:52,8 WM sehingga durasi gerhana Matahari partial di wilayah Madinah teramati sekitar 2 jam 38 menit.
Data Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 Tu
Bagi Indonesia, gerhana Matahari total yang akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 TU merupakan gerhana yang sangat istimewa. Keistimewaan ini terutama dilihat dari segi wilayah yang terlintasi gerhana, yakni Indonesia merupakan satu-satunya negara yang wilayah daratannya dilalui oleh bagian total dari gerhana itu. Terjadinya peristiwa ini sangat langka. Dari segi area, jalur gerhana dan totalnya, yang lebih mirip dengan gerhana sekarang adalah gerhana tanggal 7 April 1502 TU, dan akan dialami lagi pada tanggal 19 Februari 2501 TU mendatang.
Lamanya waktu (durasi) total saat puncak gerhana akan bervariasi bagi setiap titik di permukaan Bumi. Durasi maksimumnya mencapai 4 menit 9 detik (yang terlama 7 menit 32 detik) terjadi di lautan Pasifik dekat ekuator, yaitu sekitar 1300 km sebelah Timur dari kepulauan Indonesia. Semakin ke Timur dan ke Barat dari tempat ini maka nilai durasi totalnya semakin mengecil. Durasi total terlama di Indonesia akan terjadi di provinsi Maluku Utara dan yang tersingkat akan dialami provinsi Sumatra Selatan.
Penutup
Bagi kita umat Islam, peristiwa gerhana nanti merupakan pembuktian ketaatan umat Islam terhadap sunah Rasulullah saw. Apakah akan lebih banyak orang yang berkerumun di tempat terbuka untuk menyaksikan gerhana dan meninggalkan shalat gerhana ataukah yang melaksanakan shalat gerhana di masjid-masjid. Namun demikian, bukan berarti orang yang melaksanakan shalat gerhana tidak boleh menyaksikan gerhana, silahkan dilakukan tetapi tuntunan syariat Islam harus diprioritaskan.
Terakhir, jangan sekali-kali mengamati gerhana Matahari secara langsung dengan mata telanjang karena dapat menyebabkan kebutaan, terutama saat peralihan antara gerhana total ke gerhana sebagian. Gunakanlah filter atau penyaring cahaya Matahari yang direkomendasikan.
By Agus Salim, Staf Programmer Mathla Astro Club, Tim Observasi Hisab-Rukyat & Astronomi PP Persis.
Sumber: Buletin Tanwir, No. 99 Tahun V/4 Maret 2016, terbitan PZU Unit Cihideung Kota Tasikmalaya.
sigabah.com/beta
Takbir di Saat Gerhana

Takbir di Saat Gerhana

3/06/2016 Add Comment
Gerhana Matahari Total. Rabu, 09 Maret 2016
Gerhana Matahari Total. Rabu, 09 Maret 2016
Menyambut Gerhana Matahari yang jatuh bertepatan pada Hari Rabu, 09 Maret 2016, maka apakah anda sudah tahu tentang takbir di saat gerhana ? Ayo kita bahas !
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa ibadah gerhana disyariatkan pada tahun 10 H, saat terjadi Gerhana matahari annular (cincin), pada tanggal 29 Syawal 10 H bertepatan dengan 27 Januari 632 M, pukul 8.30 pagi waktu Madinah. Gerhana waktu itu bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Nabi saw. pada usia 17 bulan (lahir Jumadil Ula tahun 9 H.). [1]
Ketika itu Nabi saw. mengajarkan kepada umat Islam untuk menyambut peristiwa gerhana dengan pelaksanaan ibadah, meliputi: (1) berdoa kepada Allah dan beristigfar, (2) bertakbir, (3) Salat gerhana sebanyak 2 rakaat, (4) khutbah gerhana, dan (5) bersedekah.
Di sini perlu disampaikan catatan bahwa tertib urutan pelaksanaan bentuk-bentuk ibadah di atas, selain khutbah setelah shalat, bukanlah kemestian. Sebab hasil penelusuran terhadap hadis-hadis tentang itu menunjukkan urutan bervariasi.[2]
Berkenaan dengan takbir gerhana kita mendapatkan petunjuk dari sejumlah riwayat yang menjelaskan perintah takbir pada saat kejadian itu semuanya menggunakan kalimat yang sama: Kabbiruu(bertakbirlah), tanpa dijelaskan redaksi dan teknis pelaksanaanya. Tidak dijelaskan itu, apakah menunjukkan lil ithlaq atau lil ‘ilmi bih ? Jika lil Ithlaq berarti bebas atau tidak ditentukan, misalnya cukup dengan ucapan Allahu akbar. Sementara lil ‘ilmi bih berarti sudah diketahui oleh para sahabat redaksi takbir dan teknis pelaksanaanya, sebagaimana takbiran iedul fitri dan iedul adha.
Dalam hal ini, kami cenderung kepada pendapat yang menyatakan lil ‘ilmi bih, dengan alasan sebagai berikut:
Pertama, dilihat dari aspek tarikh tasyri’ (sejarah penetapan) bahwa takbiran iedul fitri dan iedul adha lebih dahulu disyariatkan (Tahun 2 H), sehingga pada saat Nabi saw. memerintah takbir gerhana (Tahun 10 H), beliau tidak perlu lagi memberitahukan redaksi dan teknis pelaksanaanya. Kedua, dilihat dari segi sumber ilmu, redaksi takbir bersumber dari shahabat Nabi saw., bukan dari Nabi saw. secara langsung. Penjelasan shahabat tentang redaksi takbir tidak membatasi hanya untuk event iedul fitri dan iedul adha semata.
Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:
وَأَمَّا صِيْغَةُ التَّكْبِيْرِ فَأَصَحُّ مَا وَرَدَ فِيْهِ مَا أَخْرَجَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ بِسَنَدٍ صَحِيْحٍ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ‏:‏كَبِّرُوْا اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا‏…‏ ‏
Adapun shighah (bentuk) takbir, maka yang paling shahih adalah hadis yang ditakhrij oleh Abdur Razaq dengan sanad sahih dari Salman, ia berkata, “Takbirlah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, kabiira. [3]

Selanjutnya Ibnu Hajar juga menjelaskan
وَقِيْلَ يُكَبِّرُ ثِنْتَيْنِ بَعْدَهُمَا لا إله إلا اللَّه و اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللَّهِ الْحَمْدُ جَاءَ ذلِكَ عَنْ عُمَرَ وَابْنُ مَسْعُوْدٍ
“Dan dikatakan ia bertakbir dua kali (Allahu Akbar, Allahu Akbar), setelah itu Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd. Keterangan itu bersumber dari Umar dan Ibnu Mas’ud.” [4]
Keterangan di atas menunjukkan bahwa redaksi takbir, sesuai dengan petunjuk sahabat, hanya dua macam:
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabiran.
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Redaksi takbir demikian itu menjadi pegangan madzhab Hanafi, Hanbali, Imam asy-Syafi’I dalam fatwa lama (qawl qadiim), dan sekelompok ulama salaf.
Sedangkan lafal takbir dengan tambahan lain selain di atas, tidak ditemukan bersumber dari Nabi saw. maupun para shahabat, misalnya:
  • Lafal Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabiira dengan tambahan wa lillaahilhamdu
  • Lafal Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah
  • Lafal panjang sebagai berikut
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
Menurut Ibnu Hajar:
وَقَدْ أُحْدِثَ فِي هَذَا الزَّمَانِ زِيَادَةٌ فِي ذَلِكَ لَا أَصْلَ لَهَا
“Pada zaman ini telah diciptakan tambahan pada lafal itu yang tidak mempunyai sumber sama sekali (Laa asla lahaa).” [5]
Sementara teknis takbiran pada masa itu dilakukan dalam beragam cara, baik sendirian, bersama-sama atau saling bergantian sesuai dengan yang dilakukan di masa Rasulullah saw. berdasarkan hadis sebagai berikut:
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الفِطْرِ وَاللأَضْحَى….وَالْحُيَّضُ يَكُنْ خَلْفَ النَّاسِ يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاسِ. وَلِلْبُخَارِيِّ : قَالَتْ اُمُّ عَطِيَّةَ : كُنَّا نُأْمَرُ أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيْرِهِمْ.
Dari Umi Athiyah ra, ia mengatakan, “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk mengajak keluar mereka (perempuan yang haid) pada hari raya iedul fitri dan adha…., dan perempuan-perempuan yang haid di belakang orang-orang, mereka bertakbir bersama orang-orang.” Dan menurut riwayat Al-Bukhari: Umu Athiyah berkata,”Kami diperintah mengajak keluar perempuan-perempuan yang haid, maka mereka bertakbir dengan takbirnya mereka (kaum laki-laki).” [6]
Aspek pandalilan hadis di atas, sekiranya kaum laki-laki tidak melantunkan takbirnya tentu saja kaum wanita yang berada di belakang kaum lak-laki tidak akan takbir mengikuti takbir mereka.
Dengan demikian, bertakbir sendirian, bersama-sama maupun saling bergantian, kesemua itu tidak lepas dari pelaksanaan melantunkan takbir. Jadi, semua cara telah memenuhi perintah atau anjuran bertakbir.
Kesimpulan
Redaksi Takbir gerhana sama dengan takbir iedul fitri dan iedul adha
[1]Lihat, Taudhihul Ahkam ‘an Bulugh al-Maram, III:60.
[2]Misalnya, dalam riwayat al-Bukhari disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Berdoa kepada Allah, bertakbir, salat, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Al-Bukhari, I:354, No. 997) Dalam riwayat Muslim, Ahmad, al-Baihaqi disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Takbir, Berdoa kepada Allah, salat, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Muslim, II:618, No. 901, Musnad Ahmad, VI:164, No. 25.351, As-Sunan al-Kubra, III:340, No. 6157). Sementara dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Salat, dzikir kepada Allah, berdoa kepada Allah, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Ibnu Khuzaimah, II:329, No. 1400)
[3]Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Dar al-Rayan li al-Turats, Kairo, 1986, II: 536.
[4]Ibid. Menurut Abdul Aziz ath-Tharifi, “Riwayat dua kali takbir itulah yang benar.” Lihat, Syarh Hadits Jabir fii al-Hajj, hlm. 67
[5]Ibid. Dikutip pula oleh Imam asy-Syaukani dalam Nail al-Awthar, VI:37
[6]Lihat, Nail al-Awthar, III : 349

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Mengambil Hikmah di Balik Musibah Penyerangan Teroris di Paris

11/16/2015 Add Comment
Mengambil Hikmah di Balik Musibah Penyerangan Teroris di Paris


Assalamualaikum WR. WB.
Alhamdulillah penulis diberi kesehatan untuk bisa menulis artikel ini.
Sabtu, 14 November 2015, sepertinya sedang panas-panasnya berita penyerangan Teroris di Paris. Enam lokasi yang menjadi tempat penyerangan diantaranya yaitu : konser music Bataclan (sebelah timur Paris), di stadion Stade de France, di restoran dekat Rue Bichat, di rue de Charonne, dan di pusat perbelanjaan Les Halles (dekat the Centre Pompidou dan the Louvre).

Adapun jumlah korban yang hingga saat ini diberitakan sampai 150 lebih. Peristiwa ini diklaim oleh ISIS sebagai dalang utamanya.

Dikutip dari rakyatku.com, Turki mengutuk keras akan serangan terorisme di Paris hari ini.
"Serangan ini tidak hanya menyerang Perancis tapi seluruh umat manusia, demokrasi, kebebasan dan nilai-nilai universal. Teror tidak memiliki agama, dan kewarganegaraan. Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan," kata juru bicara Perdana Menteri Ahmet Davutoglu.

Lalu bagaimana kita sebagaimana umat muslim menyikapi perbuatan teror ini ?

Mengambil Hikmah di Balik Musibah Penyerangan Teroris di Paris

SYEIKH Dr. Muhammad Hasan, semoga Allah menjaganya, berkata:

Aku berdiskusi dengan seorang pemuda yang keras (dalam ber-Islam):

Maka aku bertanya, “Apakah meledakkan Klub malam di suatu negara muslim halal atau haram?”

Dan dia menjawab, “Tentu saja halal, dan membunuh mereka pun diperbolehkan.”

Aku bertanya lagi, “Kalau kamu membunuh mereka yang bermaksiat ke mana mereka akan kembali?”

Dia menjawab, “Sudah pasti ke neraka.”

Lalu aku bertanya lagi, “Sedangkan ke mana tujuan syetan menggoda manusia?”

Dia menjawab, “Pasti ke neraka juga.”

Maka aku berkata padanya, “Berarti kalian bersekutu dengan syetan dalam satu tujuan yaitu menjerumuskan manusia ke dalam neraka!”

Dan aku berikan dia satu hadits Rasulullah SAW ketika ada jenazah orang Yahudi yang lewat di hadapannya kemudian Beliau menangis, maka para sahabat bertanya: “Apa yang membuatmu menangis ya Rasulallah?” Beliau menjawab: “Aku telah membiarkan satu orang masuk neraka…”

Maka aku berkata lagi pada pemuda itu, “Perhatikan perbedaan pola pikir kalian dengan Rasulullah SAW yang berusaha untuk memberikan hidayah kepada manusia dan menyelamatkannya dari siksa Api neraka? Kalian di satu lembah, sedangkan Rasulullah SAW dan Islam di lembah yang lain.”


Mengambil Hikmah di Balik Musibah Penyerangan Teroris di Paris
Apa yang kita bisa ambil dari kisah tersebut ? Yang pertama ialah Islam selalu mengajarkan perdamaian, bukan permusuhan atau sampai melakukan bom bunuh diri. Islam mengajarkan untuk selalu berbuat baik, baik kepada muslim maupun non-muslim. Kalaupun ISIS berkata "Jihad !" namun secara teknis sangat berbanding terbalik. Mereka tak pernah melakukan sesuai ajaran Islam dan sangat berbeda dengan ajaran Rasulullah tentang berperang.

Semoga bemanfaat.


Mengambil Hikmah di Balik Musibah Penyerangan Teroris di Paris

islampos.com
rakyatku.com
Kisah Pak Sholeh, Kenikmatan Seorang Yang Cinta Membaca Al-Quran

Kisah Pak Sholeh, Kenikmatan Seorang Yang Cinta Membaca Al-Quran

11/11/2015 Add Comment
Kisah Teladan, kenikmatan membaca quran

Apa yang akan Anda baca bukanlah cerita karangan atau kisah khayal. Ini adalah pengalaman pribadi seorang da’i Arab Saudi, Syaikh Umar bin Muqbil hafizhahullah, yang berkisah tentang orang tua ahli ibadah. Orang tua yang begitu cinta dengan Alquran. Orang tua yang tidak hendak berharap dunia dengan anugerah penglihatannya, ia hanya berharap bisa memanfaatkan kedua matanya untuk memandangi kalam Rabbnya. Ia adalah Bapak Shaleh Abid. Kira-kira 10 tahun Syaikh Umar Muqbil dan Pak Shaleh sering bersama dan menjalin hubungan dekat.
Syaikh Umar mengisahkan, “Aku dekat dengan Pak Shaleh kurang lebih selama 10 tahun. Sejak aku bertugas menjadi khatib di Markaz Raudhah al-Hasu, di wilayah Qashim, Arab Saudi. Pak Shaleh adalah seorang yang dihormati di tengah keluarganya. Ia juga merupakan seorang figur dalam masalah agama bagi mereka. Sekarang, sudah 5 tahun beliau wafat. Meninggalkan kami semua”, ungkap Syaikh Umar membuka kisahnya.
“Menurutku, sangat jarang orang sepertinya. Di kalangan keluarganya pun ia teramat istimewa. Sangat pantas menjadi teladan. Sosoknya mengingatkanku kepada generasi terdahulu umat ini”.
Ia melanjutkan, “Pak Shaleh termasuk orang yang paling banyak membaca Alquran yang pernah aku lihat. Walaupun ia bukan seorang yang dikenal mengkhususkan diri dengan ilmu agama. Namun amalannya mendekati kebiasaan para ulama”,
“Ia terbiasa mengkhatamkan 30 juz Alquran hanya dalam tiga hari. Suaranya lantang dan menggema ketika membaca kalam Ilahi itu. Mungkin, orang-orang yang berada di halaman masjid pun dapat mendengar lantunan tilawahnya. Itulah kebiasaannya. Mengangkat suara ketika bertilawah”,
“Aku senang sekali duduk-duduk bersamanya. Berdekatan dengannya adalah momen luar biasa bagi para juru dakwah dan juga bagi pelajar ilmu agama”. Menurut Syaikh Umar, Pak Shaleh sangat menghargai orang yang duduk bersamanya. Ia terlihat begitu bahagia melayani lawan bicara. Sehingga kebahagiaannya merambat ke sekelilingnya, membuat orang lain turut berbahagia. Menularkan energi positif yang menghilangkan duka dan gelayut pikiran tidak nyaman karena beban kehidupan. Syaikh Umar mengatakan, “Kebahagiaan yang ia pancarkan tatkala duduk-duduk bersama bagaikan perasaan seorang pengantin. Kesan itulah yang kutangkap tiap kali kulihat dia. Keceriaan begitu memancar dari wajahnya”.
“Ia mudah tersentuh dan meneteskan air mata. Jika Anda bercerita kepadanya tentang kisah-kisah orang-orang shaleh, maka ia dengan mudah menangis (mengingat mereka). Atau bisa pula Anda ceritakan tentang kenikmatan surga. Atau adzab neraka. Atau ceritakan saja padanya tentang sirah Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya”.
Di akhir hayatnya, ia mendapatkan beberapa cobaan:
Pertama: istrinya wafat sebelum mencapai usia 40 tahun.
Kedua: penyakit silih berganti dideritanya sejak 5 tahun sebelum wafat. Sampai-sampai menyebabkan sedikit tidur.
Ketiga: di antara cobaan yang paling berat yang ia rasakan adalah fungsi indera penglihatannya yang melemah. Sampai-sampai ia butuh seseorang yang menuntunnya. Hal itu pula yang menghalanginya untuk membaca Alquran dari mush-hafnya.
Aku datang menjenguknya. Membesuknya tatkala suatu cairan di mata menghalangi pandangannya. Ia menangis hingga aku pun menangis. Aku bertanya, “Bagaimana keadaanmu wahai Abu Abdillah?”
Ia menjawab, “Cairan ini menutupi pandanganku hingga aku tidak mampu membaca Alquran”, demikianlah ia ungkapkan kesedihannya kepadaku dengan bahasa ‘amiyah.
Kemudian ia melanjutkan, “Demi Allah wahai Abu Abdillah (kun-yah yang sama), aku tidak menginginkan dunia dengan penglihatanku. Aku hanya ingin membaca Alquran yang membuat dadaku menjadi lapang. Kalau penglihatanku sudah hilang, apalagi yang aku inginkan dari dunia ini”, ungkapnya dengan air mata berlinangan membasahi janggutnya.
Kukatakan padanya, “Pak Shaleh, bergembiralah.. Sungguh Nabi ﷺ pernah bersabda dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu,
إذا مرض العبدُ أو سافر كُتب له ما كان يعمل صحيحا مقيماً
“Apabila seorang hamba sakit atau bersafar, dicatatkan untuknya apa yang biasa ia lakukan tatkala sehat dan muqim.” (HR. al-Bukhari No. 2996).
Berbahagialah.. karena pahala bacaan Alquran-mu tetap mengalir bi-idznillah walaupun engkau sekarang tidak mampu membacanya karena cairan yang ada di matamu menghalangimu darinya. Percayalah akan janji Rasulullah ﷺ.
Dengan suara bergetar ia memotong ucapanku. Dengan suara yang tulus bercampur air mata ia berkata, “Tapi, aku hanya hafal beberapa juz saja. Dulu aku pernah menyetorkan hafalanku kepada Syaikh Ibnu Salimullah yarhamuhu. Aku sangat ingin menyempurnakannya. Dan aku tidak tau kapan kiranya aku wafat”.
Aku menjawab, “Berdoalah kepada Allah, semoga Allah menghilangkan cairan yang ada di matamu. Bergembiralah…”
“Jujur, saat itu aku mengatakan perkataan ini dengan ringan begitu saja”, kata Syaikh Umar. Ia mengucapkan nasihat itu hanya sebagai kalimat penghibur, meringankan bebannya dan melapangkan dadanya. “Bukan berarti aku meragukan kehebatan takdir Allah. Hanya saja lemahnya iman dan keyakinanku kala itu. Karena, jarang sekali orang yang buta bisa melihat kembali”, sambungnya.
“Aku pun mohon izin darinya. Dari lelaki tua yang tengah membasahi lisannya dengan ucapan istirja’ inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… la haula wala quwwata illa billah…
Kemudian waktu pun berlalu. Aku tidak tahu pasti, satu bulan ataukah lebih. Kutemui ia sebagaimana kebiasaanku setelah menyampaikan khotbah Jumat. Kulihat wajahnya berseri bahagia. Kalimat-kalimatnya terburai, bertaut-taut saling susul-susul menyusul, keluar dari mulutnya. Ia hendak berbagi kegembiraan denganku. “Aku beri tahu kabar gembira padamu wahai Abu Abdillah… akan kuberi tahu kabar gembira untukmu wahai Abu Abdillah… cairan yang ada di mataku telah hilang. Allah telah mengabulkan doaku”, ia mengucapkan kabar tersebut seakan seluruh gudang harta dunia menjadi miliknya.
Sekelabat lintasan-lintasan pikiran melayang di benakku. Aku tidak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku berpikir tentang hebatnya keyakinan muwahhid (orang yang yakin kepada Allah) ini. Aku takjub tentang bagaimana Allah mengabulkan doanya. Sebagaimana ia mengabulkan doa istri Ibrahim al-Kholil ‘alaihissalam. Kemudian menangisi betapa lemah iman dan keyakinanku.
Aku dipertemukan dengan seorang muwahhid, dengan kejadian hebat seperti ini. Sebuah pelajaran, pelajaran yang tidak aku dapatkan dari sebagian ulama; baik di buku-buku mereka ataupun kujumpai dalam amalan mereka semoga Allah merahmati mereka semua. Di tengah kebisuan dan lintasan pikiran itu, tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali hanya ikut larut dalam kebahagiannya. Karena aku mencintainya. Cinta seorang anak kepada ayahnya.
Setelah itu, kulihat ia isi akhir hayatnya dengan penghambaan dan kesungguhan dalam ketaatan kepada Allah hingga maut menjemputnya.
Semoga Allah merahmati ahli ibadah ini, Abu Abdillah Abdurrahman bin Jam’an bin Dhawi asy-Syatili al-Mithri. Semoga Allah dengan rahmat dan kasih sayangnya mengumpulkannya bersama kita semua dalam Surga Firdaus, surga tertinggi. Dan semoga Allah merahmati mereka hamba-hamba Allah yang mengucapkan amin…