Download

Kajian Islam

Ramadhan

Recent Posts

Menggugat Makna Wali (Tafsir Ali Imran: 28)

Menggugat Makna Wali (Tafsir Ali Imran: 28)

2/24/2017 Add Comment
Ilustrasi Tafsir Quran Surat Ali Imran: 28
Ilustrasi Tafsir Quran Surat Ali Imran: 28
Firman Allah:
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Qs. Ali Imran: 28)
Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili menuliskan dalam tafsirnya bahwa ayat yang semakna dengan pengertian ini banyak ditemukan dalam Al-Qur’an, yaitu surah Ali Imran: 118, Al-Mujadalah: 22, Al-Maidah:51, An-Nisa:144, Al-Mumthanah:1, Al-Anfal 73 dan At-Taubah:71.

Makna Wali Secara Teoritis
Dalam Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia dari berbagai penerbit Al-Qur’an di seluruh Indonesia yang sumbernya dari DEPAG, kata awliyaa` sering diterjemahkan pemimpin. Namun, sebagian kalangan menganggap bahwa penerjemahan awliyaa’ sebagai pemimpin tidak akurat, sehingga pengharaman pemimpin non-muslim dianggap tidak punya pijakan yang kokoh dari kacamata Islam itu sendiri. Benarkah demikian?
Kata awliyaa` merupakan bentuk kata jamak dari waliy. Dilihat dari segi penetapan makna bagi suatu kata, kata waliy dikategorikan sebagai kata musytarak (bermakna ganda atau multi makna). Adapun penyebab kata itu dikategorikan sebagai musytarak, karena kata itu diungkapkan untuk pengertian yang umum, yang mencakup banyak hal, atau disebut al-isytirak al-ma’nawi.
Dalam pengertian umum kata waliy mengandung beberapa makna, sebagaimana dijelaskan para pakar tafsir dan bahasa Arab, antara lain: penolong (Naashir),[1] pembantu/penyokong (Mu’iin),[2]  sahabat (Shadiiq), [3] kerabat (Qariib).[4] Terakhir, waliy dapat dimaknai pula man waliya amra ahadin (pemimpin, orang yang mengurus perkara seseorang). Sehubungan dengan itu, pakar bahasa Arab dan Tafsir, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mengatakan:
وَكُلُّ مَنْ وَلِيَ أَمْراً الآخَرَ فَهُوَ وَلِيُّهُ
“Dan setiap orang yang mengurus perkara orang lain, maka dia menjadi walinya.” Selanjutnya beliau mengajukan dalil penggunaan kata waliy dalam pemaknaan ini, antara lain firman Allah:
الله وَلِيُّ الذين آمَنُواْ
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 257) [5]
Berdasarkan penjelasan para ulama di atas, dapat diketahui bahwa penerjemahan kata awliyaa’ hanya terbatas dalam dua arti (pertemanan-aliansi dan proteksi atau patronase) merupakan distorsi.

Makna waliy secara praktis
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa kata Waliy atau Awliyaa` mengandung beberapa makna. Untuk menentukan arti yang dimaksud dalam suatu firman Allah harus diadakan tarjih (prosedur pengunggulan) untuk mencari makna yang terkuat. Sebab, jelas tidak seluruh arti yang dikehendaki oleh lafaz nash tersebut (oleh syar‘î), melainkan salah satu saja dari beberapa arti itu.
Sehubungan dengan itu, Prof. Dr. Abu Zahrah menyampaikan pandangannya sebagai berikut: “Awliyaamerupakan bentuk jamak dari kata waliy. Dan kata waliy itu sendiri berasal dari kata walaa`. Menurut Ar-Raghib Al-Asfahani, kata walaa` dimaknai qurb (dekat) menunjukkan makna pinjaman, bukan makna asal. Peminjaman makna ini dilihat dari aspek tempat, nasab, agama, persahabatan, pertolongan dan keyakinan. Bila kata wilayaah (huruf waw berbaris kasrah) makna bermakna Nushrah (pertolongan), sementara bila berbaris fathah (Walaayah) bermakna memerintah atau menguasai suatu urusan. Dengan demikian, secara umum kata waliy dapat digunakan dalam makna shadiiq (sahabat dekat), Naashir (penolong), dan pemimpin: man yatawalla amra ghairih (orang yang mengelola/mengurus urusan orang lain). Nah, apa makna waliy yang dimaksud dalam firman Allah:
(لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ)
Yang jelas, makna waliy yang dimaksud adalah  man yatawalla amra ghairih (pemimpin). Maka pengertian ayat itu: “Allah melarang orang-orang yang beriman memasuki walayah (pemerintahan) orang-orang kafir, berada di bawah kekuasaan dan perlindungan mereka, dengan meninggalkan perlindungan dan kekuasaan orang-orang mukmin, karena sudah menjadi kewajiban orang-orang mukmin untuk membentuk dawlah (kedaulatan) dan walayah (pemerintahan) yang akan melindungi mereka sendiri, sehingga tidak seorang pun di antara mereka hidup di bawah naungan kekuasaan kafir. Adapun dalil bahwa kata awliyaa` pada ayat ini bermakna pemimpin ialah kalimat: “min duuni al-mu’miniin.” Karena kata duuna pada ayat ini bermakna ghair. Dan penggunaan kalimat min duuni al-mu’miniin menunjukkan ditinggalkannya kepemimpinan orang-orang yang beriman, karena menghendaki kepemimpinan kafir. Dengan demikian, ayat itu mengandung makna bahwa sekelompok mukmin tidak boleh berada di bawah kepemimpinan atau kekuasaan kafir.”
Selanjutnya, Prof. Dr. Abu Zahrah menyampaikan argumentasi lain dilihat dari perspektif keindahan dan ketinggian nilai sastra yang terkandung dalam ayat itu. Kata beliau, “Di sana terdapat isyarat retorik dalam firman-Nya:
(لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ)
Dan firman-Nya:
(مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ)
Pada ayat ini, kata al-mu’miniin disebut secara berulang. Sementara telah diakui bahwa suatu kata apabila disebut secara berulang dengan menggunakan alif lam definitive, maka kata yang kedua menunjukkan hakikat kata yang pertama. Maka penyebutan kata al-mu’miniin secara berulang menunjukkan bahwa kata al-mu’miniin yang kedua menunjukkan hakikat al-mu’miniin yang pertama. Dan di sana terdapat isyarat bahwa orang-orang mukmin yang berada di bawah kekuasaan kafir berarti telah meninggalkan diri mereka sendiri dan telah “mengambil” dari orang-orang kafir hal yang akan mengalahkan mereka sendiri.
Pada ayat ini, larangan menjadikan pemimpin kafir tanpa disertai keterangan ‘illat (motif hukum). Sementara pada ayat lainnya ‘illat itu diterangkan secara jelas, misalnya firman Allah:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَولِيَاءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ. . .)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…”(QS. Al-Maidah:51)
Dan firman-Nya:
(وَالَّذِين كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ).
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal:73)
Dari kedua ayat ini dapat diambil faedah bahwa larangan itu disebabkan tiga hal:
Pertama, orang-orang kafir tidak mungkin menjaga hak-hak orang mukmin dengan sebenarnya. Kedua, kekuatan dan bala bantuan orang-orang Islam yang hidup di bawah kekuasaan orang kafir selalu dimanfaatkan untuk memperkuat mereka, bukan untuk ‘izzul Islam dan orang mukmin sendiri. Karena itulah Allah swt. Berfirman:
(وَمَن يَتَوَلَّهم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ)
“Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…”(QS. Al-Maidah:51)
Demikian itu karena setiap kekuatan dan aktifitas social yang dilakukan oleh orang Islam yang hidup di bawah kekuasaan kafir pada hakikatnya akan menguntungkan mereka, bukan menguntungkan Islam itu sendiri.
Ketiga, orang-orang Islam yang hidup di bawah kekuasaan orang kafir akan “diganggu” dalam menjalankan aturan agamanya dan tidak diberi kebebasan dalam merealisasikan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan negara. Maka yang demikian itu merupakan fasad (kerusakan) yang besar. Sehubungan dengan itu Allah berfirman:
إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
“Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal:73)
Maksudnya, jika kalian tidak mencegah atau menahan diri dari hidup di bawah kekuasaan orang kafir niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Demikian penjelasan Syekh Abu Zahrah. [6]
Berdasarkan penjelasan para ulama di atas, dapat diketahui bahwa penerjemahan kata awliyaa’ sebagai pemimpin cukup akurat, sehingga pengharaman pemimpin kafir mempunyai pijakan yang kokoh dari kacamata Islam itu sendiri.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta


[1]Lihat, Tafsir Ath-Thabari, V:315, Lisaan Al-‘Arab, XV:405, At-Tafsir Al-Wasith, VI:176, Rawaa’i Al-Bayaan, I:178.
[2]Ibid., bandingkan dengan At-Tafsir Al-Muniir, V:319.
[3]Lihat, At-Tafsir Al-Wasith, VI:176
[4]Ibid.
[5]lihat, Al-Mufradat fii Gharib Al-Qur’an, hlm. 885
[6]lihat, Zahrah At-Tafaasir, III:1175-1777.
Sengsara Saat Sejahtera (Tafsir Al-Qashash: 77)

Sengsara Saat Sejahtera (Tafsir Al-Qashash: 77)

2/24/2017 Add Comment
Tafsir Quran Surat Al-Qashash: 77
Ilustrasi Tafsir Quran Surat Al-Qashash: 77

Firman Allah Swt.:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” QS. Al-Qashash: 77
Penjelasan Umum
Di dalam Al-Qur’an didapati potret individu dan keluarga sepanjang zaman. Di satu sisi terdapat potret individu dan keluarga sukses, namun ada pula potret individu dan keluarga gagal. Berbagai potret tersebut meski terjadi pada masa dan di lingkungan yang berbeda dengan saat ini, namun kandungan nilainya senantiasa kekal sepanjang zaman. Qarun di antara sosok individu yang dipotret Al-Quran itu, karena kegagalannya dalam mensejahterakan hidup. Dia sosok manusia “yang sengsara dalam sejahtera”. Potret Qarun secara lengkap dapat dilihat dalam surah al-Qashash [28] ayat 76-82.
Kehadiran ayat ke-77 surat Al-Qashash di atas diberi “pengantar” berupa ulasan “Bio data” Qarun secara ringkas:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’.” (QS. Al-Qashash:76)
Menurut Ibnu Abbas, “Qarun saudara sepupu Musa.”  Ayah Nabi Musa, bernama Imran, adalah kakak dari ayah Qarun, bernama Yashhub. Baik Imran maupun Yashhub, keduanya anak Qahits. Demikian Ibnu Juraij menjelaskan silsilahnya.
Pada awalnya Qarun termasuk orang shaleh di kalangan Bani Israil periode Nabi Musa. Ia populer dengan julukan Munawwir, karena suaranya yang bagus saat membaca kitab Taurat. Meski kaya secara spiritual, namun ia miskin secara material. Karena itu, suatu hari ia datang menghadap Nabi Musa, agar didoakan menjadi orang kaya secara spiritual dan material. Harapannya saat itu, agar ia semakin shaleh secara ritual dan shaleh secara sosial sehingga dapat membantu saudara-saudaranya Bani Israil. Berkat doa Nabi Musa, status sosial Qarun berubah 360 derajat, ia menjadi sangat kaya raya. Begitu banyak kekayaan yang dimilikinya, sampai-sampai anak kunci untuk menyimpan harta kekayaannya harus dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat. (QS. Al-Qashash [28]: 76).
Setiap kunci perbendaharaan harta Qarun besarnya sama dengan jari telunjuk. Semuanya terbuat dari kulit. Setiap kunci dibuat terpisah untuk masing-masing gudang. Apabila Qarun berkendaraan, semua kunci itu diangkut dengan enam puluh ekor bagal (peranakan kuda dengan keledai) yang kuat; menurut pendapat yang lain diangkut dengan sarana lain. Demikian Khaisamah menjelaskan, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Qarun bukan hanya sukses secara harta, namun sukses pula dalam hal tahta. Ia diangkat menjadi salah satu “menteri keuangan dan asset” Negara dalam  kabinet Ramses II, pada saat itu. Cita-citanya untuk menjadi orang kaya kini sudah tercapai. Namun sayang, perubahan status sosialnya telah menggerus keshalehan ritual dan sosialnya. Niat awal agar lebih khusyu ibadah dan membantu sesama, tidak pernah ia jalani. Kekayaannya telah menjadikannya lupa dan durhaka. Keserakahan diri telah menjerumuskannya ke dalam kebinasaan, demikian menurut Qatadah bin Di’amah.
Penjelasan Khusus
Perubahan status sosial yang akan mengantar dirinya menjadi manusia lupa dan durhaka telah diingkatkan oleh beberapa orang dari kaum Nabi Musa As. Dalam rangka memberi nasihat dan petunjuk, mereka mengatakan kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga dengan apa yang telah kamu peroleh.” (QS. Al-Qashash: 76)
Ayat ke-77 surat ini mengisahkan lanjutan nasihat mereka kepada Qarun, “bahwa nasihat ini bukan berarti engkau hanya boleh beribadah semata dan melarangmu memperhatikan dunia. Tidak! Berusahalah sekuat tenaga dan pikiranmu dalam batas yang dibenarkan Allah untuk memperoleh harta dan hiasan duniawi, namun carilah secara bersungguh-sungguh kebahagiaan negeri akhirat melalui hasil usahamu itu dengan cara menginfakkan dan menggunakannya sesuai petunjuk Allah. Dan pada saat yang sama, janganlah mengabaikan bagianmu dari kenikmatan dunia dan berbuat baiklah kepada semua pihak, disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepadamu dengan aneka nikmat-Nya, dan janganlah engkau berbuat kerusakan dalam bentuk apa pun di bagian mana pun di bumi ini, karena Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.”
Dalam nasehat mereka digunakan ungkapan:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.
Kata  fiimaa (فيما), dalam pemahaman Ibnu ‘Asyur mengandung makna terbanyak atau pada umumnya, sekaligus melukiskan tertancapnya ke dalam lubuk hati upaya mencari kebahagiaan ukhrawi melalui apa yang dianugerahkan Allah dalam kehidupan dunia ini.
Jadi, maksud nasehat mereka, gunakanlah harta yang berlimpah dan nikmat yang bergelimang sebagai karunia Allah kepadamu ini untuk bekal ketaatan kepada Tuhanmu dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengerjakan berbagai amal pendekatan diri kepada-Nya, yang dengannya kamu akan memperoleh pahala di dunia dan akhirat.
Selanjutnya, pemberi nasehat menyatakan:

{وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}

“dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Al-Qashash: 77)
Maksudnya, yang dihalalkan oleh Allah berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan pernikahan. Karena sesungguhnya engkau mempunyai kewajiban terhadap Tuhanmu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap dirimu sendiri, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap keluargamu, dan engkau mempunyai kewajiban terhadap orang-orang yang bertamu kepadamu, maka tunaikanlah kewajiban itu kepada haknya masing-masing.
Pernyataan ini perlu disertakan dalam nasihatnya itu agar pihak yang dinasihati  tidak menghindar dari tuntutan itu. Karena tanpa kalimat semacam ini, boleh jadi yang dinasihati akan memahami bahwa ia dilarang menggunakan hartanya kecuali untuk pendekatan diri kepada Allah dalam bentuk ritual semata. Dengan kalimat ini, menjadi jelas bahwa seseorang boleh menggunakan hartanya untuk tujuan kenikmatan duniawi selama hak Allah menyangkut harta telah dipenuhinya dan selama penggunaannya tidak melanggar ketentuan Allah Swt., antara lain membuat kerusakan di muka bumi dan berbuat jahat terhadap makhluk Allah, sebagaimana dinyatakan pada penghujung ayat:

وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ

“dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.” (QS. Al-Qashash: 77)
Nasehat bijak itu bukan saja tidak diterima Qarun, bahkan dengan sombong dia menyatakan bahwa kekayaannya itu adalah hasil kerja keras dan usaha sendiri, tidak ada kaitan dengan siapapun juga tidak ada kaitan dengan Allah. Sikap angkuhnya itu dipotret dalam ayat selanjutnya (ayat 78)
Kesombongan dan keserakahan Qarun membuat dirinya menjadi “orang sengsara dalam sejahtera”,  karena pada akhirnya ia ditenggelamkan beserta kekayaannya ke dalam perut bumi. (QS. Al-Qashash: 81)
Di manakah lokasi ditenggelamkannya Qarun tersebut? Mengapa banyak orang menganggap bila mereka menemukan harta terpendam selalu mengatakan dengan sebutan harta karun? Benarkah ia harta karun?
Menurut beberapa riwayat, lokasi tempat ditenggelamkannya Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi itu terjadi di daerah Al-Fayyum, sekitar 90 kilometer (km) atau dua jam perjalanan dengan menggunakan mobil dari Kairo, ibu kota Mesir. Menurut penduduk setempat, nama danau itu adalah Bahirah Qarun (laut Qarun). Di sekitar Al-Fayyum ini yang tersisa hanya berupa puing-puing istana Qarun.
Istana ini mengingatkan sekaligus menjadi saksi dan pelajaran bagi umat sesudahnya, bahwa kesombongan dan kekikiran dapat membinasakan dirinya, sebagaimana terjadi pada Qarun.
Penutup
Allah menampilkan sosok Qarun dalam bingkai Al-Qur’an sebagai pribadi yang amat serakah dengan harta, menjadikan dirinya gelap mata. Dibalik cerita itu tentu saja mengandung hikmah bagi manusia secara universal bahwa dalam sebuah masyarakat berideologi materialisme penyakit Qarunisme berpotensi menghinggapi banyak orang, sehingga nilai-nilai yang bersifat immaterial, seperti réligiositas (kesalehan) dan nilai-nilai moral dianggap sebagai suatu yang irasional dalam membangun kesalehan personal dan sosial.
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu menaati aturan Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan ini sehingga termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disejahterakan dengan kekayaan dunia dan akhirat.
By Amin Muchtar, sigabah.com/beta
Waktu Terjadi Gerhana Matahari di Beberapa Kota di Indonesia

Waktu Terjadi Gerhana Matahari di Beberapa Kota di Indonesia

3/06/2016 Add Comment
Waktu Terjadi Gerhana Matahari di Beberapa Kota di Indonesia
Surat Edaran Persis tentang Gerhana Matahari 2016
Dengan adanya gerhana matahari total yang terjadi pada hari Rabu, 09 Maret 2016. Maka, organisasi masyarakat PERSIS (Persatuan Islam) mengeluarkan surat edaran sebagai berikut :

Merujuk pada Almanak Persatuan Islam 1437 H, hasil perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam, maka dengan ini Pimpinan Pusat Persatuan Islam menyampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Hari Rabu, 09 Maret 2016 Insya Allah akan terjadi Gerhana Matahari (Total dan Sebagian) di seluruh wilayah Indonesia dengan data sebagai berikut :

  • Gerhana Matahari Total (GMT) akan terjadi di wilayah-wilayah : Palembang, Tanjung Pandan, Muko-muko (Bengkulu), Palangkaraya, Palu, Balikpapan, dan Ternate.
  • Selain daerah-daerah tersebut di atas akan terjadi Gerhana Matahari Sebagian (GMS).
2. Waktu Terjadi Gerhana
A. GERHANA MATAHARI TOTAL :
NO NAMA KOTA Kontak Awal Puncak Gerhana Kontak Akhir Ket.
1 Palembang 06.20 07.21 08.31 WIB
2 Tanjung Pandan 06.21 07.24 08.35 WIB
3 Muko-muko 06.19 07.19 08.27 WIB
4 Palangkaraya 06.23 07.30 08.46 WIB
5 Palu 07.28 08.38 10.00 WITA
6 Balikpapan 07.25 08.33 09.53 WITA
7 Ternate 08.36 09.53 11.20 WIT

B. GERHANA MATAHARI SEBAGIAN :
NO NAMA KOTA Kontak Awal Puncak Gerhana Kontak Akhir Ket.
1 Padang 06.21 07.20 08.27 WIB
2 Bandung 06.19 07.21 08.32 WIB
3 Jakarta 06.19 07.19 08.31 WIB
4 Surabaya 06.21 07.25 08.39 WIB
5 Pontianak 06.23 07.27 08.40 WIB
6 Denpasar 07.22 08.27 09.42 WITA
7 Banjarmasin 07.23 08.39 09.40 WITA
8 Makassar 07.25 08.34 09.54 WITA
9 Kupang 07.28 08.37 09.55 WITA
10 Manado 07.34 08.49 10.15 WITA
11 Ambon 08.33 09.49 11.16 WIT


3. Rentang waktu untuk melaksanakan shalat gerhana antara pukul 07.00 WIB sampai pukul 08.00 WIB. Dan untuk daerah lainnya agar menyesuaikan waktu pelaksanaan shalatnya dengan kejadian Gerhana di daerah masing-masing.
4. Sehubungan dengan kejadian gerhana matahari total tersebut di atas, kami anjurkan kepada seluruh jamaah dan simpatisan Persatuan Islam serta kaum muslimin untuk melaksanakan Shalat Gerhana pada waktunya. Untuk keseragaman pelaksanaan Shalat Gerhana dimaksud, untuk daerah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan sekitarnya kami atur sebagai berikut :
a. Mulai Takbir : Pukul 07.00 WIB
b. Shalat Gerhana : Pukul 07.30 WIB (dilanjutkan dengan khutbah, pengumpulan, dan pembagian shodaqoh)

Demikian hal ini kami sampaikan untuk dijadikan pedoman bagi seluruh anggota dan jajaran jam'iyyah serta kaum Muslimin pada umumnya.


facebook.com/infopersis/

Menyambut Gerhana Matahari Total, Rabu, 09 Maret 2016

3/06/2016 Add Comment
Gerhana Matahari Total. Rabu, 09 Maret 2016
Gerhana Matahari Total. Rabu, 09 Maret 2016
Dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhya Matahari dan Bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah, yang dengan keduanya Allah hendak menakut-nakuti hamba-Nya. Dan tidaklah terjadi gerhana pada keduanya karena kematian seseorang ataupun kelahirannya. Jika kalian melihat gerhana, maka shalat dan berdo’alah kepada Allah sampai Matahari kembali normal (seperti sedia kala).” (HR. Muslim, Shahih Muslim, II : 628)
Berdasarkan literatur sejarah shalat dapat dipastikan adanya syariat shalat gerhana setelah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Terjadi dua peristiwa gerhana Matahari pada periode Madinah: Pertama, gerhana tanggal 27 Januari 632 TU yang bersamaan dengan peristiwa wafatnya anak Rasulullah saw. bernama Ibrahim. Kedua, tanggal 21 April 627 TU.
Analisis astronomis menunjukkan bahwa gerhana yang terjadi di Madinah pada tahun 10 H itu adalah gerhana cincin pada pagi hari tanggal 27 Januari 632 TU (29 Syawal menjelang awal Dzulqa’dah 10 H). Pada saat itu di Madinah mengalami gerhana sebagian dengan kegelapan sekitar 85%.
Kota Madinah pada waktu itu hanya dapat mengamati gerhana Matahari partial (sebagian) yang diawali pukul 7:16:30,1 WM, dengan puncak gerhana terjadi pukul 8:29:43,8 WM dan akhir gerhana pukul 9:54:52,8 WM sehingga durasi gerhana Matahari partial di wilayah Madinah teramati sekitar 2 jam 38 menit.
Data Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 Tu
Bagi Indonesia, gerhana Matahari total yang akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 TU merupakan gerhana yang sangat istimewa. Keistimewaan ini terutama dilihat dari segi wilayah yang terlintasi gerhana, yakni Indonesia merupakan satu-satunya negara yang wilayah daratannya dilalui oleh bagian total dari gerhana itu. Terjadinya peristiwa ini sangat langka. Dari segi area, jalur gerhana dan totalnya, yang lebih mirip dengan gerhana sekarang adalah gerhana tanggal 7 April 1502 TU, dan akan dialami lagi pada tanggal 19 Februari 2501 TU mendatang.
Lamanya waktu (durasi) total saat puncak gerhana akan bervariasi bagi setiap titik di permukaan Bumi. Durasi maksimumnya mencapai 4 menit 9 detik (yang terlama 7 menit 32 detik) terjadi di lautan Pasifik dekat ekuator, yaitu sekitar 1300 km sebelah Timur dari kepulauan Indonesia. Semakin ke Timur dan ke Barat dari tempat ini maka nilai durasi totalnya semakin mengecil. Durasi total terlama di Indonesia akan terjadi di provinsi Maluku Utara dan yang tersingkat akan dialami provinsi Sumatra Selatan.
Penutup
Bagi kita umat Islam, peristiwa gerhana nanti merupakan pembuktian ketaatan umat Islam terhadap sunah Rasulullah saw. Apakah akan lebih banyak orang yang berkerumun di tempat terbuka untuk menyaksikan gerhana dan meninggalkan shalat gerhana ataukah yang melaksanakan shalat gerhana di masjid-masjid. Namun demikian, bukan berarti orang yang melaksanakan shalat gerhana tidak boleh menyaksikan gerhana, silahkan dilakukan tetapi tuntunan syariat Islam harus diprioritaskan.
Terakhir, jangan sekali-kali mengamati gerhana Matahari secara langsung dengan mata telanjang karena dapat menyebabkan kebutaan, terutama saat peralihan antara gerhana total ke gerhana sebagian. Gunakanlah filter atau penyaring cahaya Matahari yang direkomendasikan.
By Agus Salim, Staf Programmer Mathla Astro Club, Tim Observasi Hisab-Rukyat & Astronomi PP Persis.
Sumber: Buletin Tanwir, No. 99 Tahun V/4 Maret 2016, terbitan PZU Unit Cihideung Kota Tasikmalaya.
sigabah.com/beta
Takbir di Saat Gerhana

Takbir di Saat Gerhana

3/06/2016 Add Comment
Gerhana Matahari Total. Rabu, 09 Maret 2016
Gerhana Matahari Total. Rabu, 09 Maret 2016

Menyambut Gerhana Matahari yang jatuh bertepatan pada Hari Rabu, 09 Maret 2016, maka apakah anda sudah tahu tentang takbir di saat gerhana ? Ayo kita bahas !
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa ibadah gerhana disyariatkan pada tahun 10 H, saat terjadi Gerhana matahari annular (cincin), pada tanggal 29 Syawal 10 H bertepatan dengan 27 Januari 632 M, pukul 8.30 pagi waktu Madinah. Gerhana waktu itu bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Nabi saw. pada usia 17 bulan (lahir Jumadil Ula tahun 9 H.). [1]
Ketika itu Nabi saw. mengajarkan kepada umat Islam untuk menyambut peristiwa gerhana dengan pelaksanaan ibadah, meliputi: (1) berdoa kepada Allah dan beristigfar, (2) bertakbir, (3) Salat gerhana sebanyak 2 rakaat, (4) khutbah gerhana, dan (5) bersedekah.
Di sini perlu disampaikan catatan bahwa tertib urutan pelaksanaan bentuk-bentuk ibadah di atas, selain khutbah setelah shalat, bukanlah kemestian. Sebab hasil penelusuran terhadap hadis-hadis tentang itu menunjukkan urutan bervariasi.[2]
Berkenaan dengan takbir gerhana kita mendapatkan petunjuk dari sejumlah riwayat yang menjelaskan perintah takbir pada saat kejadian itu semuanya menggunakan kalimat yang sama: Kabbiruu(bertakbirlah), tanpa dijelaskan redaksi dan teknis pelaksanaanya. Tidak dijelaskan itu, apakah menunjukkan lil ithlaq atau lil ‘ilmi bih ? Jika lil Ithlaq berarti bebas atau tidak ditentukan, misalnya cukup dengan ucapan Allahu akbar. Sementara lil ‘ilmi bih berarti sudah diketahui oleh para sahabat redaksi takbir dan teknis pelaksanaanya, sebagaimana takbiran iedul fitri dan iedul adha.
Dalam hal ini, kami cenderung kepada pendapat yang menyatakan lil ‘ilmi bih, dengan alasan sebagai berikut:
Pertama, dilihat dari aspek tarikh tasyri’ (sejarah penetapan) bahwa takbiran iedul fitri dan iedul adha lebih dahulu disyariatkan (Tahun 2 H), sehingga pada saat Nabi saw. memerintah takbir gerhana (Tahun 10 H), beliau tidak perlu lagi memberitahukan redaksi dan teknis pelaksanaanya. Kedua, dilihat dari segi sumber ilmu, redaksi takbir bersumber dari shahabat Nabi saw., bukan dari Nabi saw. secara langsung. Penjelasan shahabat tentang redaksi takbir tidak membatasi hanya untuk event iedul fitri dan iedul adha semata.
Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan:
وَأَمَّا صِيْغَةُ التَّكْبِيْرِ فَأَصَحُّ مَا وَرَدَ فِيْهِ مَا أَخْرَجَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ بِسَنَدٍ صَحِيْحٍ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ‏:‏كَبِّرُوْا اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا‏…‏ ‏
Adapun shighah (bentuk) takbir, maka yang paling shahih adalah hadis yang ditakhrij oleh Abdur Razaq dengan sanad sahih dari Salman, ia berkata, “Takbirlah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, kabiira. [3]

Selanjutnya Ibnu Hajar juga menjelaskan
وَقِيْلَ يُكَبِّرُ ثِنْتَيْنِ بَعْدَهُمَا لا إله إلا اللَّه و اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللَّهِ الْحَمْدُ جَاءَ ذلِكَ عَنْ عُمَرَ وَابْنُ مَسْعُوْدٍ
“Dan dikatakan ia bertakbir dua kali (Allahu Akbar, Allahu Akbar), setelah itu Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd. Keterangan itu bersumber dari Umar dan Ibnu Mas’ud.” [4]
Keterangan di atas menunjukkan bahwa redaksi takbir, sesuai dengan petunjuk sahabat, hanya dua macam:
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabiran.
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Redaksi takbir demikian itu menjadi pegangan madzhab Hanafi, Hanbali, Imam asy-Syafi’I dalam fatwa lama (qawl qadiim), dan sekelompok ulama salaf.
Sedangkan lafal takbir dengan tambahan lain selain di atas, tidak ditemukan bersumber dari Nabi saw. maupun para shahabat, misalnya:
  • Lafal Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabiira dengan tambahan wa lillaahilhamdu
  • Lafal Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah
  • Lafal panjang sebagai berikut
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
Menurut Ibnu Hajar:
وَقَدْ أُحْدِثَ فِي هَذَا الزَّمَانِ زِيَادَةٌ فِي ذَلِكَ لَا أَصْلَ لَهَا
“Pada zaman ini telah diciptakan tambahan pada lafal itu yang tidak mempunyai sumber sama sekali (Laa asla lahaa).” [5]
Sementara teknis takbiran pada masa itu dilakukan dalam beragam cara, baik sendirian, bersama-sama atau saling bergantian sesuai dengan yang dilakukan di masa Rasulullah saw. berdasarkan hadis sebagai berikut:
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الفِطْرِ وَاللأَضْحَى….وَالْحُيَّضُ يَكُنْ خَلْفَ النَّاسِ يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاسِ. وَلِلْبُخَارِيِّ : قَالَتْ اُمُّ عَطِيَّةَ : كُنَّا نُأْمَرُ أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيْرِهِمْ.
Dari Umi Athiyah ra, ia mengatakan, “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk mengajak keluar mereka (perempuan yang haid) pada hari raya iedul fitri dan adha…., dan perempuan-perempuan yang haid di belakang orang-orang, mereka bertakbir bersama orang-orang.” Dan menurut riwayat Al-Bukhari: Umu Athiyah berkata,”Kami diperintah mengajak keluar perempuan-perempuan yang haid, maka mereka bertakbir dengan takbirnya mereka (kaum laki-laki).” [6]
Aspek pandalilan hadis di atas, sekiranya kaum laki-laki tidak melantunkan takbirnya tentu saja kaum wanita yang berada di belakang kaum lak-laki tidak akan takbir mengikuti takbir mereka.
Dengan demikian, bertakbir sendirian, bersama-sama maupun saling bergantian, kesemua itu tidak lepas dari pelaksanaan melantunkan takbir. Jadi, semua cara telah memenuhi perintah atau anjuran bertakbir.
Kesimpulan
Redaksi Takbir gerhana sama dengan takbir iedul fitri dan iedul adha
[1]Lihat, Taudhihul Ahkam ‘an Bulugh al-Maram, III:60.
[2]Misalnya, dalam riwayat al-Bukhari disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Berdoa kepada Allah, bertakbir, salat, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Al-Bukhari, I:354, No. 997) Dalam riwayat Muslim, Ahmad, al-Baihaqi disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Takbir, Berdoa kepada Allah, salat, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Muslim, II:618, No. 901, Musnad Ahmad, VI:164, No. 25.351, As-Sunan al-Kubra, III:340, No. 6157). Sementara dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Salat, dzikir kepada Allah, berdoa kepada Allah, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Ibnu Khuzaimah, II:329, No. 1400)
[3]Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Dar al-Rayan li al-Turats, Kairo, 1986, II: 536.
[4]Ibid. Menurut Abdul Aziz ath-Tharifi, “Riwayat dua kali takbir itulah yang benar.” Lihat, Syarh Hadits Jabir fii al-Hajj, hlm. 67
[5]Ibid. Dikutip pula oleh Imam asy-Syaukani dalam Nail al-Awthar, VI:37
[6]Lihat, Nail al-Awthar, III : 349

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta